Selasa, 26 Maret 2013

Mencapai Penghasilan Diluar Nalar Manusia



    Saya sangat bersyukur sekali dibesarkan di sebuah keluarga yang sederhana tetapi keluarga yang didalamnya selalu diajarkan bagaimana makna kejujuran dan tanggung jawab sebagai dasar dalam mengarungi kehidupan ini. Ayah saya adalah sosok yang tetap menjadi teladan bagi saya dalam setiap mengambil keputusan dalam kehidupan saya semenjak saya masih kecil sampai saat inipun dalam kehidupan saya. Ayah saya yang hanya pegawai biasa dengan penghasilan yang biasa tapi memberikan teladan yang sangat luar biasa bagaimana seharusnya menjadi ayah dari anak-anaknya. Sebagai seorang yang hidup disebuah desa yang kecil yang kebanyakan orang berfikir sederhana yang penting hidup dan bisa makan, disinilah keistimewaan ayah saya dibandingkan orang yang bahkan lebih mampu dari kehidupan kami yaitu beliau berfikir warisan terbaik buat anak- anaknya adalah pendidikan yang tinggi dan layak untuk bekal dimasa mendatang dan bukan harta yang banyak seperti kebanyakan pemikiran orang-orang disekitar kami. Masih terasa kemarin beliau mengatakan kepada anak-anaknya " Kalian tidak akan saya bekali harta yang melimpah karena ayah tidak memiliki it
u tetapi ayah akan bekerja sekuat tenaga selama ayah mampu supaya kalian mendapatkan pendidikan yang layak untuk bekal kehidupan kalian nanti, harta seberapapun banyaknya akan habis dalam waktu sekejap jika kalian tidak bisa mengelolanya tapi ilmu , pendidikan akan kalian gunakan dan akan tetap ada sealama kalian hidup". Buat ayah saya hidupnya sudah tidak terlalu penting tapi buat beliau kehidupan anak-anaknya adalah yang utama , tidak terlalu penting apakah kehidupan beliau susah ataupun tidak yang penting anak-anaknya mendapatkan pendidikan dan penghidupan yang layak di kemudian hari. Suatu pandangan dan sikap seorang ayah yang selalu saya teladani dan menjadi inspirasi ketika nanti saya berkeluarga dan memilik tanggaung jawab anak.


 

       Sikap dan pandangan orang tua saya serta pesan beliau itulah yang begitu kuat melekat pada diri saya , buat saya hidup ini adalah sudah kesempatan yang kedua dan tidak akan ada kesempatan yang lain lagi. Bagi saya apapun yang saya lakukan dan apapun yang ingin saya wujudkan adalah hal- hal yang terbaik dan yang utama saya ingin selalu terus berusaha menjadi yang terbaik. Dalam pendidikan sebagai bekal utama dalam kehidupan, sayapun melakukan yang terbaik saya selalu masuk sekolah dan universitas terbaik dan selalu menjadi juara pertama dalam bidang akademik, sederet prestasi akademik saya capai seperti juara olimpiade matematika dan fisika tingkat nasional saat duduk di bangku SMA dan meraih Nilai Ebtanas Murni terbaik se kabupaten saat SMP. Kebiasaan yang ditanamkan ayah saya untuk selalu menjadi yang terbaik dan menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT  begitu mendarah daging sehingga kebiasaan inipun mengalir dalam setiap langkah dan pekerjaan saya. Karena saya begitu sadar bahwa kesempatan dan anugrah waktu yang sudah diberikan Yang Maha Kuasa tidak pernah berulang kembali. Sebagai keluarga yang sederhana dengan penghasilan yang standard saya begitu bangga bahwa ayah saya mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi walaupun kadang harus berhutang sana sini untuk menutupi biaya pendidikan anak- anaknya. Hingga pada suatu ketika saat  ketiga kakak saya  semua diperguruan tinggi dan biaya yang begitu besar sedangkan penghasilan yang tidak mencukupi, ayah saya bicara kepada saya dengan berat hati untuk berhenti dulu kuliah karena tidak mampu kalau harus membiayai empat orang sekaligus, satu pukulan telak buat ayah saya dan saya merasakan betapa bersesdihnya beliau saat itu padahal pada saat itu saya barusan lulus UMPTN dan diterima di Fakultas Teknik Sipil Universitas Indonesia , Universitas faforit yang belum tentu orang lain bisa memasukinya. Tapi permintaan itupun saya sikapi dengan rasa bangga dan sayapun bukan orang yang mudah menyerah dengan keadaan, sayapun berusaha dengan upaya sendiri untuk terus kuliah dan akhirnya bisa lulus dari FTUI walaupun untuk melalui itu semua dengan berbagai macam tantangan dan kesulitan yang harus saya hadapi.


        Keadaan dimana saya diminta ayah saya untuk berhenti kuliah adalah salah satu kejadian luar biasa dalam hidup saya, dan itu menjadikan pelajaran buat saya kelak bahwa saya tidak boleh berpenghasilan kecil dan seadanya supaya yang saya alami tidak terulang dalam kehidupan anak- anak saya. Mereka tidak boleh mendapatkan gizi yang kurang seperti yang saya alami dan mereka juga tidak boleh mendengar kata harus menunda dulu pendidikan karena saya tidak mampu menyediakan biaya buat mereka dalam hatikecil saya berjanji tidak boleh dan tidak akan terulang untuk anak-anak saya. Ketika saya memutuskan untuk menikah saat itulah saya memulai babak baru kehidupan saya dimana saya harus lebih dewasa dan lebih bertanggung jawab dalam kehidupan saya dan keluarga yang saya tanggung. Jujur saja saya berterima kasih yang tulus kepada istri saya yang menerima keadaan saya yang pada saat itu punya tanggungan hutang sekitar 500 juta rupiah akibat kebodohan saya dalam menjalankan bisnis perdagangan berjangka yaitu memberikan fix income kepada nasabah yang nanti akan saya ceritakan pada bagian selanjutnya karena saya memberikan fix income  dan menikah hanya dengan modal 7,5 juta rupiah hanya cukup buat beli cincin , Itulah kenyataan yang harus kami alami , memulai kehidupan dengan kondisi minus. 



       Kehidupan baru sebagai kepala rumah tangga dengan berbagai kesulitannya semua harus saya  hadapi, saya begitu yakin Allah tidak akan memberi kesulitan yang tidak mungkin untuk saya selesaikan. Persoalan yang pertama kali saya selesaikan adalah bagaimana saya menyelesaikan tanggungan yang sejumlah sekitar 500 juta, uang yang sama sekali tidak pernah saya pakai tetapi harus saya kembalikan kepada yang punya akibat kebodohan yang saya lakukan, saya lakukan negosiasi lagi dengan pemilik uang untuk bisa mencicil sesuai kemampuan saya, dalam benak saya yang penting saya beritikad baik mengembalikan pasti mereka mau menerimanya. Inilah masa paling sulit yang saya alami dalam kehidupan saya dan itu harus saya jalani bukan untuk saya hindari. Dalam hal negosiasi inipun tidak semua pemilik uang menerima dengan baik, bahkan saya harus berurusan dengan polisi ketika saya dilaporkan oleh salah satu pemilik uang karena tidak terima saya cicil, semua saya hadapi dengan kayakinan bahwa persoalan ini pasti akan selesai. Disamping saya harus menghadapi semua persoalan tersebut saya juga mempunyai keluarga yang harus saya nafkahi sekaligus membangun impian-impian hidup dimasa depan. Ditengah persoalan itu sayapun harus menghadapi tekanan harus segera pindah rumah dari mertua karena saya tidak tega setiap hari harus mengganggu setiap kali saya pulang larut dan mengganggu ketenangan beristirahat ayah mertua saya. Terus terang saya sangat bersyukur saya bekerja disebuah perusahaan yang tidak membatasi berapa penghasilan yang saya dapat. Didikan ayah saya bahwa saya harus menjadi manusia yang bertanggung jawab menjadikan saya selalu kuat dan terus berusaha dan berusaha menjalani kehidupan dengan ihklas dan tetap berkeyakian persoalan pasti akan selesai, Allah pasti akan memperhatiakn hambanya yang selalu berusaha dan tidak banyak mengeluh.


      Satu demi satu persoalanpun terselesaikan dan bahkan enam bulan kemudian saya bisa membeli rumah dengan dana cash 370 juta rupiah, walaupun semua tanggungan saya belum selesai akan tetapi dengan memiliki rumah sendiri minimal saya mendapatkan ketenangan untuk memulai hidup baru. Suatu penghasilan yang diluar nalar manusia saya dapatkan semua itu dalam kurun waktu yang singkat, semua itu saya peroleh tidak dengan mudah tapi semua itu saya lakukan dengan penuh perjuangan dan kerja keras serta kemurahan Allah dalam memberikan rezeki kepada saya. Dari rumah inilah saya mulai menapaki dan menata kehidupan baru, saya harus membangun keluarga yang tidak boleh kekurangan dan harus mendapatkan pendidikan yang seharusnya. Satu kejadian yang saya jadikan pelajaran dalam kehidupan saya adalah ketika tetangga saya meninggal dunia dalam usia yang cukup muda, dia meninggalkan dua orang anak yang masih kecil dan seorang istri yang tidak bekerja, saya sempat mendengar percakapan dengan istri saya bahwa meskipun dia ditinggalkan oleh suaminya tapi masih merasa bersyukur karen suaminya ikut asuransi dan mendapatkan klaim 1 (satu) Milyar rupiah satu jumlah peninggalan yang cukup besar, sehingga dia tidak terlalu merisaukan kelanjutan pendidikan anak- anaknya. Dalam hati saya bagaimana kalau itu semua terjadi pada diri saya dan sampai saat itupun saya tidak memiliki pertanggungan sama sekali. Dari saat itulah saya begitu sadar bahwa hidup kedepan dan sampai berapa umur saya hanya Allah SWT yang tau dan saya harus memprotek keluarga saya jika kejadian seperti tetengga saya itu terjadi terhadap saya dan pelajaran yang saya ambil ternyata hidup tidak hanya sekedar cukup untuk makan, punya tempat tinggal dan sedikit hiburan.. Saya pun ingin memprotek saya pribadi dan keluarga saya agar saya istri saya siap menghadapi semua itu kalau suatu saat terjadi sama saya. Untuk pertanggungan saya pribadi dan istri sayapun membutuhkan uang 200 juta rupiah dengan nilai proteksi masing- masing satu Milyar dengan begitu kalau saya meninggal kelak istri saya berhak mendapatkan pertanggungan sebesar 2 ( dua ) milyar. Sayapun berusaha mendapatkan uang tersebut dari pekerjaan saya sebagai marketing di industri perdagangan berjangka ini. Satu setengah tahun kemudian lahirlah anak pertama saya dan lagi- lagi saya harus memikirkan biaya pendidikannya walaupun anak saya mungkin masih 4 tahun kemudian. Dan ketika dia lahir sayapun sudah protek biaya pendidikannya sampai dengan dia lulus kuliah dan setelah lulus kuliahpun dia akan mendapatkan sejumlah uang ketika dia mau membuka usaha. Saya berhasil memberikan proteksi kehidupan keluarga saya yang waktu itu saya anggarkan sebesar 500 juta untuk kami berempat hanya dalam kurun waktu satu tahun seperti apa yang saya rencanakan walaupun pada saat itu anak saya yang kedua belum lahir dan uang itupun lagi lagi saya perolah di pekerjaan yang saya tekuni sebagai marketing disebuah perusahaan di bidang perdagangan berjangka. Kehidupan sayapun makin tenang dan kekhawatiranpun kalau-kalau suatu saat terjadi hal- hal yang tidak di inginkan kami semua sudah siap.Seandainyapun saya meninggal seperti yang dialami tetangga saya lebih dulu setidaknya istri saya akan mendapatkan pertanggungan sebesar 6 ( enam) Milyar dan kalau misalkan dia mau bisa buat modal untuk menikah lagi. Dalam kurun waktu dua tahun dimana saya harus membayar hutang dan membeli rumah, saya juga bisa mendapatkan sebuah mobil BMW dan sebuah mobil honda jazz buat istri saya, suatu pencapaian yang susah dilogikakan, bukan semata- mata hasil usaha dan kerja keras saya pribadi, tetapi hasil kerja keras tim serta kemurahan Allah SWT yang telah memberikan segala sesuatu bagi hambanya yang mau berusaha.


      Perjalanan dalam bisnis yang saya geluti tidak hanya berhenti sampai disini. Pertengahan 2008 sayapun memulai langkah baru sebagai kepala cabang dikota yang sama sekali tidak pernah terfikir untuk tinggal disana. Manado kota di ujung timur laut pulau Sulawesi. Situasi kondisi serta tempat baru bukan hal mudah untuk ditaklukkan apalagi didaerah yang budaya, adat istiadat serta bahasa yang baru. Saya berangkat memulai perjuangan yang baru dengan harapan yang jauh lebih besar dengan ke-15 orang yang sudah saya anggap sebagai adik, teman serta saudara saya. Semua saya mulai dari nol kembali tetapi dengan kesempatan dan peluang yang jauh lebih besar , dengan satu niat yang kuat dalam hatipun saya berkata " inilah masa depan saya berikutnya yang Allah berikan ". Kerasnya perjuangan ditempat yang baru ini hingga saat ini hanya tersisa 8 orang saja dari lima belas orang awalnya. Biaya hidup tinggi serta keadaan yang berat terutama pola berfikir SDM setempat membuat saya dan teman- teman harus bekerja extra keras, untuk mencapai hasil maksimal, hingga tiga tahun kemudian jumlah total SDM di kantor menjadi sekitar 400 orang suatu hasil yang patut disyukuri, hasil yang kita peroleh dari kultur masyarakat dengan tingkat gengsi yang tinggi, alergi terhadap marketing dan hanya mau bekerja dengan  mendapatkan penghasilan yang sudah pasti setiap bulannya, hasil yang tidak boleh difikir menggunakan logika manusia saja. 


     Dalam masa perjuangan di Manado saya patok beberapa macam hal yang ingin saya wujudkan. Impian saya saat itu saya ingin memberikan hadiah kepada kedua orang tua saya serta mertua saya untuk beribadah haji ketanah suci, saya ingin membawa keluarga saya untuk umrah dan naik haji serta punya rumah lagi di Manado. Begitu besarnya keinginan saya untuk membiayai ongkos naik haji orang tua saya menjadi cambuk tersendiri untuk segera mewujudkannya, dalam benak saya umur manusia hanya Allah yang tau jangan sampai saya tidak bisa membiayai mereka naik haji terlebih dulu mereka dipanggil yang kuasa. Betapa merasa durhakanya saya kalau itu terjadi, walaupun kita hanya boleh berencana Allah yang menentukannya. Mereka yang telah menyebabkan saya ada didunia ,membesarkan saya dan memberi pelajaran makna hidup didunia dengan berbagai macam dinamikanya, mereka yang telah mengenalkan kebesaran Allah dan mengajarkan untuk selalu bersyukur dalam menjalani kehidupan ini. Alhamdulillah dalam kurun waktu tiga tahun impian-impian itu dapat terwujud, biaya naik haji kedua orang tua saya, biaya naik haji ibu mertua saya, biaya naik haji saya dan istri saya, biaya umrah kami sekeluarga serta rumah kami seharga 3,3 Milyar-pun sudah berdiri kokoh menjadi pelindung keluarga saya sehari- hari, dan itu semua terwujud dalam waktu kurang dari 3 tahun, suatu hasil- lagi yang tidak bisa dilogikakan dengan akal manusia dan semua itu tidak akan terwujud tanpa kerja keras saya , saudara- saudara saya ,teman teman saya semua satu kantor serta ijin dari Allah SWT.

Senin, 25 Maret 2013

Pilihan banyak orang belum tentu terbaik buat kita



             
    Sebagai sarjana Teknik Sipil dari Universitas Indonesia ( UI ) saya tidak pernah sama sekali membayangkan akan bekerja sebagai seorang marketing, bahkan terlintas difikiranpun tidak pernah ada. Semenjak lulus dari Fakultas Teknik Sipil UI saya langsung bekerja pada perusahaan pengeboran minyak asing SLUMBERGER dengan gaji yang cukup lumayan saat itu yaitu USD  6500, suatu jumlah yang cukup besar saat itu dengan kurs rupiah yg berkisar saat itu Rp.12.000. Pekerjaan inilah yg sebenarnya saya cita-citakan semenjak saya masuk di fakultas Teknik Sipil UI. Selama  kurang lebih 2 tahun saya bekerja di Slumberger dari tugas mulai di Bangkok, Perth, Afrika selatan, Amsterdam, New York, hingga di Caracas Venezuela. Pekerjaan ini pada awalnya begitu saya impikan dan pasti setiap orang menginginkanya. Pada awalnya saya begitu menikmati bekerja di perusahaan ini di tambah dengan pujian dari banyak orang karena hanya segelintir orang saja yang bisa masuk di perusahaan ini. Pergi keluar negeri yg sebelumnya tidak pernah terbayangkan akan mengalaminya dan segudang uang yang saya miliki dari penghasilan saya.

           Seperti halnya orang kebanyakan saya pun sangat bahagia pada awalnya bekerja di Slumberger ini. Seiring bergulirnya waktu rutinitasku di Slumberger inipun saya rasa cukup membosankan, dua minggu di laut dan 2 minggu di darat. Saat hari besok akan bertugas ke tempat pengeboran di laut, rasanya seperti mau pergi ke neraka, komunikasi tidak diperbolehkan dan kalaupun ada kejadian di tengah laut tidak akan ada pemberitaan apapun. Hal yg paling berat dalam pekerjaan ini adalah pergantian suhu udara yang ekstrim. Di malam hari suhu udara bisa mencapai -8 'C dan kalau siang hari bisa mencapai 34 'C dan saya dituntut untuk memiliki daya tahan tubuh yg bagus. Rutinitas itu ternyata cukup menyiksa saya karena pada dasarnya saya lebih suka bergumul dengan manusia lain dari pada dengan mesin. Sebagai manusia yg merindukan selalu berkumpul dengan keluarga, sering menimbulkan kerinduan pada keluarga ketika berada di negeri orang . Jatah cuti yang diberikan satu tahun hanya 3 minggu membuat saat saat waktu cuti adalah hal yg sangat saya rindukan terutama saya ingin ketika momen lebaran. Selama dua tahun bekerja saya ternyata 2 kali lebaran tidak bisa menikmati berlebaran dengan keluarga, malah lebaran di negeri orang. Dan ini menjadi kesedihan tersendiri bagi saya. Pada saatnya dapat cuti 3 minggupun suatu waktu saya pulang ke tanah air menempuh perjalanan selama 23 jam dari Caracas, Newyork, Amsterdam, Singapura, Jakarta, Surabaya ditambah 6 jam perjalanan saya ke Banyuwangi untuk bertemu dengan kedua orang tua saya. Belum genap 5 jam saya bertemu orang tua saya di Banyuwangi, saya mendapat telpon dari kantor Slumberger Cilandak Jakarta, saya diminta kembali ke Caracas karena alasan teknis ditempat kerja, malam itupun saya berangkat ke surabaya untuk mengejar penerbangan terakhir karena keesokan hari saya harus terbang ke Caracas, suatu peristiwa yg sangat tidak mengenakkan dalam perjalanan hidup saya.

         Setelah saya menjalani karir saya diperusahaan Slumberger ini selama dua Tahun di Venezuela terjadi nasionalisasi perusahaan perusahaan asing, sehingga kebijakan Presiden Hugo Chaves saat itu, memaksa untuk Slumberger menutup untuk sementara pengeborannya di venezuela, saya pun dikembalikan ke Indonesia dan diperbantukan di Slumberger Indonesia di Prabumulih. Yang sialnya lagi gaji saya distandardkan dengan di Indonesia hingga tinggal 20 % saja , satu jumlah yg minim buat kehidupan yang biasanya  penghasilannya 5 kali lipat dari yang sekarang. Dua bulan diperbantukan di Prabumulih saya mendapatkan panggilan lagi untuk ditempatkan di London. Satu pilihan yang sulit karena orang tua saya melarang untuk pergi ke London. Karena berbagai kejadian dan keadaan selama bekerja di Slumberger akhirnya saya putuskan untuk tidak berangkat dan mengundurkan diri dari Slumberger perusahaan yang saya impikan semenjak saya masuk kuliah di Teknik Sipil UI.
        Berhenti dari Slumberger saya berusaha mencari pekerjaan lain dan diterima di PT. Pembangunan Perumahan ( PT. PP ) sebuah perusahaan kontrkator terkemuka di Indonesia dengan gaji 5  juta perbulan yang pada tahun itu saya tolak. Karena tidak sebesar yang saya dapatkan sebelumnya, saya putuskan untuk tidak saya terima. Perjalanan hidup saya pun berlanjut di Dinas Pekerjaan Umum Prov. Jawa Timur, walaupun harus saya akui bahwa itu adalah KKN karena Ka Dinas PU Jatim saat itu masih kerabat, dan yang paling gila saya ditempatkan pada bagian tender proyek ( bagian yg sangat basah saat itu ). Ketidak cocokan dengan hati nurani menyebabkan saya memutuskan untuk  bekerja di Dinas PU hanya dua bulan saja

        Babak baru cerita awal mula terjun di bisnis perdagangan berjangka ini dimulai dari sini, melalui interview di kawasan Rungkut Industri Surabaya, pada akhir Desember 2002 . Sebelum dimulainya interview saya sempat bertanya-tanya, kapan saya melamar di sebuah perusahaan pembuatan perhiasan emas dan perasaan saya hanya melamar di pekerjaan yg ada kaitannya dengan bidang jurusan saya semasa kuliah. Sampai pada waktunya pun saya dapat giliran untuk interview, satu interview yang aneh saya di interview dengan bahasa mandarin dimana saya sama sekali tidak mengerti, tetapi ada penerjemah yang menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Dalam kebingungan dan tanda tanya apakah saya pernah mengirimkan lamaran pekerjaan diperusahaan emas tersebut sayapun dibuat makin bingung ternyata bidang pekerjaannyapun sama sekali gak nyambung dengan jurusan disiplin ilmu yang saya ambil. Future Trading kata yg begitu asing dan sama sekali belum pernah tahu terlebih seperti apa sistem kerja dan perdagangan indeks ini. 
Sebenarnya saya sudah tidak respek pada awal mulanya karena terlalu asing buat saya, akan tetapi satu hal yang cukup menarik buat saya adalah ketika yang menginterview saya bilang bahwa kalau bekerja di perusahaan ini saya TIDAK MENERIMA GAJI . Satu hal ini yg membuat saya tidak tahu kenapa justru membuat saya ingin melanjutkan interview dengan lebih semangat, bagaimana kita bekerja tidak mendapatkan gaji ?? . Satu hal seperti kata pepatah "  Sesuatu hal yang tidak enak didepan Pasti akan enak di Belakang " . Setelah mendapat penjelasan bahwa penghasilan kita ditentukan oleh kita sendiri dan berapapun jumlah nilai yang ingin kita dapatkan tidak ada batasnya barulah saya memantapkan niat saya untuk meneruskan dan tertarik menekuni bidang future trading ini. Pada prinsipnya saya merasa jauh lebih dihargai karena apa yang kita dapatkan sesuai dengan apa yang kita kerjakan itulah alasan kenapa saya begitu mantap memilih pekerjaan ini.
      Sebagaimana proses dalam dunia baru pasti mengalami yang namanya trainning, saya harus beradabtasi dengan keadaan karena semua yang saya dapat terlalu asing buat saya dan cukup susah saya mengerti saat itu. Dunia yang baru, pengetahuan yang baru, dan yang terpenting sahabat-sahabat baru dari berbagai latar belakang dan disipilin ilmu yang berbeda. Walaupun agak sedikit membosankan dalam trainning tetapi ada satu materi yang sangat menarik buat saya yaitu saat hitung-hitungan berapa penghasilan yang bisa diperolah apabila mendapatkan nasabah tertentu dan bertransaksi sehingga menghasilkan jumlah nominal tertentu. Jujur saat saya berhitung nilai nominal rupiah itu terbayang betapa kayanya kalo saya bisa mendapatkan sekian lot dan saya akan bisa membeli sesuatu yang saya impikan, walaupun sedikit norak saya memimpikan sebuah mobil taruna terbaru. Dalam lamunan itupun saya tersadar lantas siapa yang harus saya jadikan nasabah mengingat nilai nominal yang harus didapatkan adalah minimal 100 juta. satu jumlah yang sangat besar bagi saya dan saya yakin tidak banyak orang yang memiliki uang sejumlah itu sedangkan saya sama sekali tidak ada kenalan orang yang punya uang sejumlah itu dan bahkan baru 2 bulan saya tinggal di Surabaya dan sebelumnya tidak pernah tinggal di kota ini. Satu hal keyakinan saya saat itu adalah selama saya mau menggunakan otak saya untuk berfikir saya pasti bisa. Dan ternyata keyakinan itu yang membuat saya bisa berhasil sampai saya menduduki jabatan kepala cabang kelak di kemudian hari. Tidak ada yang mudah dan tidak ada yang sulit kalau saya mau, pemikiran itu  yang selalu saya ajarkan kepada setiap staff saya ketika saya jadi manager.
           Pilihan untuk berkarir di bisnis perdagangan berjangka ini bukan tanpa hambatan, ejekan dari teman seperti ("masa lulusan Teknik Sipil UI jadi marketing ") , (" kerja dapatkan gaji besa,r di luar negeri lagi, malah berhenti jadi marketing ") . Orang tua ataupun orang-orang terdekat selalu menginginkan pekerjaan yang bersikap pasti- pasti, gaji pasti kerja pasti dan masa depan pasti. Tapi itulah orang tua selalu menginginkan anak-anaknya bisa mandiri dalam kehidupannya akan tetapi kadang seseorang mengartikan yang pasti-pasti hanya identik dengan pekerjaan yang sifatnya sebagai pegawai, bekerja dan mendapatkan gaji setiap bulannya. Kebanyakan seseorang tidak bisa menangkap pesan yang jauh lebih dalam bahwa orang tua  sebenarnya hanya menginginkan anaknya  mandiri dalam kehidupanya, tidak perduli apa jenis pekerjaanya dan dalam bidang apa anaknya bekerja yang terpenting adalah halal dan tidak melanggar hukum. Satu keberuntungan yang sangat saya syukuri saya memiliki orang tua yang memberikan kebebasan kepada saya untuk memilih yang terbaik untuk diri saya sehingga sayapun tidak memiliki persoalan yang sama dengan beberapa teman saya yang dilarang untuk meneruskan bekerja di bidang ini. Tapi percayalah asal kita bisa menjalankan pekerjaan kita dengan baik dan ada hasil yang bisa kita tunjukkan kepada orang tua ataupun orang terdekat kita pasti mereka menyetujui apapun bidang pekerjaan kita. Hal ini saya bisa buktikan ketika salah satu staff saya semasa saya masih menjadi Acting Division Manager satu level manager di Solid Gold, ada staff saya bernama Jenny, seorang keturunan batak yang dia memiliki semangat tinggi bahkan dia sampai berkata "saya tidak akan pernah keluar dari perusahaan ini kecuali saya di pecat " padahal saat itu orang tuanya begitu melarang dia untuk bekerja di bidang marketing bahkan suaminya sendiri sampai sempat mengancam saya karena dia menuduh saya telah meracuni otak istrinya untuk melawan keinginan suaminya agar dia melanjutkan bekerja di bidang marketing. Tetapi dengan semangat yang luar biasa itu dia membuat larangan orang tua dan suaminya  sebagi cambuk untuk lebih cepat berhasil. Tiga bulan kemudian Jenny bisa berhasil dan mendapatkan penghasilan rata- rata 80 juta perbulan, suatu jumlah bagi setiap orang yang mustahil didapat hanya dalam masa kerja 3 bulan. Hingga pada akhirnya dari awalnya dia harus nunggu suaminya sudah berangkat kantor baru dia masuk kerja , berganti setiap hari suaminya yang mengantar dia masuk kantor dan pada awalnya mengancam saya telah mempengaruhi istrinya berbalik mengucapkan terima kasih kepada saya. Itulah manusia kapanpun bisa berubah sikap tergantung kenyataan yang ada dihadapannya." Dan untuk merubah pandangan orang terhadap kita , hanya dengan membuktikan apa yang orang ragukan dari kita ". 
        Banyak alasan kenapa banyak orang tidak mau dan bahkan cenderung meremehkan pekerjaan di bidang marketing  inipun terjadi pada diri saya, saya memakluminya karena banyak pandangan yang salah mengenai marketing. Buat kebanyakan orang marketing identik dengan menjual dan menjual identik dengan berkeliling kerumah-rumah yang pada akhirnya banyak diremehkan orang. Kesalahan memahami marketing membuat dunia marketing menyebabkan sedikit peminat yang mau terjun di bidang ini. Buat saya marketing bukanlah menjual ( sales ) tetapi marketing adalah merubah cara pandang seseorang yang awalnya tidak mau melakukan sesuatu menjadi mau melakukan sesuatu seperti apa yang kita mau. Dalam kehidupan ini manusia semenjak lahir sudah bergelut dengan dunia marketing, seorang bayi yang baru lahir dia akan melakukan marketing dengan cara menangis agar ibunya mau memberikan asi kepadanya walaupun ditengah malam buta, supaya anaknya diam maka terpaksa ibu itu akan bangun dan memberikan asi kepada bayinya. Seorang anak-anak akan menangis hanya untuk sebuah es krim dan kalaupun dengan menangis belum cukup, dia akan meraung lebih keras dan bahkan bergulung-gulung dilantai hingga ia dapatkan eskrim dari ibunya. Seorang remaja akan berdandan serapi dan semenarik mungkin dan akan menunjukkan kelebihan-kelebihanya untuk menarik lawan jenisnya supaya menjadi pasangan hidupnya. Seorang pekerja akan menunjukkan dedikasi yang tinggi dan kinerja terbaik supaya mendapatkan kenaikan gaji dari atasannya. Dengan demikian menurut saya siapapun didunia ini tidak akan bisa hidup dengan normal tanpa marketing. Hanya cara dalam marketing dan tujuannya saja yang membedakan tetapi pada dasarnya kita memang dilahirkan untuk menjadi seorang marketing. " Orang yang sukses didunia ini adalah orang yang memiliki ilmu marketing lebih baik dari pada orang lain”. Dan buat saya tidak penting orang memandang remeh diri saya karena hanya berkerir didunia marketing dunia yang salah mereka pahami toh mereka memandang remeh ataupun tidak, hal itu tidak membawa pengaruh buat saya selama yang saya lakukan adalah tidak merugikan orang lain. Dalam meremehkan karir dimarketing pun saya sempat mendapatkan cibiran dari mertua saya yang justru sampai sekarang saya ingat sebagai motivasi yang kuat untuk lebih sukses di bidang ini yaitu ketika suatu malam saya pulang rumah ditengah malam mertua saya berkata kepada istri saya " suamimu itu kerja apa setiap hari pulang pagi-pagi capek aku tengah malam bukain pintu, suruh kerja lain saja yang jam pulangnya seperti orang normal " kata-kata itu begitu menyakitkan dan terngiang-ngiang di telingan saya dan kata-kata itu yang begitu memotivasi semangat saya untuk secepatnya keluar dari rumah itu, Setiap saya pulang tengah malam saya selalu berharap mertua saya yang membuka pintu supaya saya setiap hari semakin terpacu untuk membuat saya lebih kuat berusaha supaya lebih cepat keluar dari rumah itu. Enam bulan kemudian saya memang harus keluar dari rumah mertua dan membuat mertua saya bisa tidur nyenyak setiap malam karena saya sudah bisa membeli rumah untuk istri saya rumah dengan harga 370 juta waktu itu cash dan saya peroleh dari bidang marketing dan hanya saya peroleh dalam kurun waktu enam bulan, semua itu berkat motivasi dari mertua saya agar saya jangan mengganggu beliau setiap malamnya, terima kasih Bapak salam hormat selalu dari menantu yang telah merepotkan selama tinggal dirumah Bapak. Kejadian ini membuat saya belajar bahwa bukan kejadiannya yang terpenting dalam hidup ini tetapi bagaiman kita menyikapi kejadian itu adalah yang paling utama.

           Sebagai seorang marketing sayapun menerapkan apa yang dikatakan oleh Hermawan Kerta jaya seorang pakar marketing terkemuka " Be a market leader eventhough you are not market leader "  yang terjemahannya  dalam bahasa diri saya adalah jadilah diri kamu yang pertama,yang berbeda yang unik dan belum pernah ada sebelumnya maka kamu akan menjadi marketing yang sukses. Dalam dunia marketing yang terpenting bukanlah apa yang kita jual, dimana tempat kita berjualan, dan kapan kita berjualan tetapi menurut saya yang paling pokok adalah " Bagaimana cara kita menjualnya " apapun bentuk dan jenis barang yang kita jual. Prinsip ini yang selalu saya pegang bahwa  saya dan apa yang saya jual harus sesuatu yang belum pernah ada , unik yang orang lain tidak miliki , dan saya satu-satunya orang yang memiliki dan spesial saya peruntukkan untuk para client saya. Untuk menjadikan diri saya yang unik dan berbeda serta selalu ada yang baru setiap hari saya terus mencari suatu formula terutama dalam transaksi untuk mendapatkan cara transaksi yang mudah gampang serta persentase keuntungannya tinggi, dalam hal bagaimana saya mencari dan menemukan formula transaksi yang menarik untuk nasabah saya ,akan diceritakan dalam bagian yang lain dari buku ini. Cara yang baru, teknik baru serta strategi yang baru inilah yang  menjadikan diri saya semasa marketing selalu mendapat predikat top broker serta mengalahkan banyak para senior-senior saya dalam jenjang karier dan prestasi, banyak dari senior saya yang jauh tertinggal dari posisi saya saat ini. Susungguhnya bukan orang kaya , bukan orang pintar yang bisa sukses didunia ini tetapi orang yang kreatif dan mau berinovasi untuk menjadi yang terdepan,yang ter unik dan yang selalu mencari terus mencari untuk menjadi yang terbaik, dan yang terbaiklah yang akan sukses apapun bidang yang dia tekuni. Kemauan untuk menjadi pribadi yang berbeda yang unik yang terbaik inilah yang saya jadikan roh dalam diri saya dalam menjalankan semua aktifitas saya didunia marketing yang saya geluti.

         Manusia pada dasarnya adalah mahluk sosial mahluk yang diciptakan untuk saling berkomunikasi bergaul dan berhubungan satu sama lain. Begitupun saya , pada awal disiplin ilmu saya dibidang teknik dan pekerjaan saya yang selalu bergumul dengan komputer dan jarang sekali berkomunikasi dengan orang lain secara intens menjadikan saya awalnya agak kesulitan terjun dibidang marketing. Sering muncul perasaan takut, merasa rendah diri dan minder setiap ketemu orang yang keadaannya jauh lebih baik dari keadaan saya. Saya begitu sadar saat saya mulai beralih di bidang marketing selama saya memikirkan kelemahan-kelemahan yang ada pada diri saya dibandingkan orang lain maka setiap saat saya akan selalu merasa rendah diri,minder, dan tidak memiliki kepercayaan diri, padahal seperti kata Einstein " Keadaan yang paling berbahaya pada diri seseorang adalah ketika dia kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri " . Hal inilah yang memacu saya untuk merubah cara fikir saya yang tadinya mencari kelemahan saya dibandingkan orang lain berganti menjadi mencari apa kelebihan saya dibanding orang lain dan bagaimana caranya supaya saya memiliki kelebihan yang orang lain tidak miliki. Sehingga saya menapaki kehidupan marketing saya dengan nyaman tanpa pernah saya takut, minder, ataupun rendah diri kepada siapapun dan  ketika berhadapan dengan siapapun. Satu kondisi yang sangat saya nikmati dimana saya bisa berkomunikasi dengan siapapun kapanpun  umur berapapun strata apapun dan bahkan pangkat apapun sehingga saya merasa terlahirkan kembali didunia yang baru,  dunia yang penuh sahabat, saudara, teman dengan komunikasi yang lancar dan itu tidak saya dapatkan didunia yang saya geluti sebelumnya. Di dunia marketing ini, saya baru bisa mengembangnkan potensi yang ada pada diri saya, lebih banyak mengenal karakter orang, meminpin orang lain dan yang paling membahagiakan adalah  bisa berguna bagi oranglain. Dalam dunia yang baru ini saya mendapatkan penghasilan berkali-kali lipat dari penghasilan yang saya dapatkan di pekerjaan saya sebelumnya memiliki keluarga yang berkecukupan dengan berbagai fasilitas yg belum tentu dimiliki oleh orang seumuran saya , dan yang paling penting memiliki teman sahabat keluarga sebanyak yang saya miliki saat ini. Dunia yang teramat indah buat saya dimana saya bisa mendapatkan semua yang saya inginkan. Sebuah fakta yang selalu tidak bisa terbantahkan disetiap perusahaan baik besar maupun kecil semua direksi dan pimpinan perusahaan mayoritas berasal dari marketing, dunia yang terbaik buat saya tetapi dunia yang tidak banyak dipilih oleh orang banyak, dunia yang tidak pernah saya impikan sebelumnya  yaitu Dunia Marketing.
  

APAPUN JENIS PEKERJAANYA
 SELAMA KITA LAKUKAN DENGAN BAIK HASILNYA PASTI AKAN BAIK