Selasa, 26 Maret 2013

Siapa Aku Siapa Kamu Siapa Saja



    
   Setiap manusia akan mengalami tiga fase dalam kehidupannya , fase ini biasanya ditentukan oleh perkembangan otak dan pertambahan umur masing-masing individu. Setiap fase yang dialami manusia memiliki pengaruh bagaimana setiap manusia bersikap, berperilaku dan manusia berfikir . Cara setiap manusia bersikap, berperilaku dan berfikir ini sebenarnya yang paling menentukan apakah seseorang itu berhasil atau gagal dalam hidupnya. Kebiasaan manusia yang pada umumnya tiga fase itu bisa dikelompokkan berdasar umurnya yaitu Fase ketika manusia mempunyai keinginan untuk diakui keberadaanya atau saya sebut saja " Siapa Aku " , fase ini pada umumnya terejadi pada manusia umur antara nol sampai 30 tahun. Pada fase ini setiap manusia ingin diakui dan diperhatikan keberadaannya, pada fase ini setiap manusia akan menunjukkan eksistensinya, bahwa dirinya ada dan harus diakui , berbagai macam cara setiap manusia ingin diakui keberadaan serta eksistensinya, ada dengan cara yang positif dan ada yang menggunakan cara yang negatif. Pada intinya pada fase ini setiap manusia ingin mencari jati diri , siapa sebenarnya dirinya sehingga sikap individualisnya begitu tinggi. Fase yang kedua adalah fase dimana manusia sudah memikirkan untuk seberapa kuat pengaruh atas jati dirinya untuk orang lain, fase ini saya sebut " Siapa Kamu ", fase ini pada umumnya terjadi pada manusia umur antara 30 sampai 60 tahun. Fase ini setiap manusia berusaha akan mengukur tingkat pengaruhnya terhadap sesamanya seberapa kuat dirinya terhadap sesamanya dan seberapa kuat eksistensinya bagi sesamanya. Pada fase ini kecenderungan akan membentuk pilihan kehidupan setiap manusia, pada fase ini manusia akan menjadi kepribadian yang hebat, baik dan mempunyai manfaat bagi sesamanya , atau justru sebaliknya jadi pribadi yang lemah, jahat dan tidak memiliki nilai manfaat bagi setiap sesamanya. Pada fase ini, orang akan menjadi jaya dan bermartabat atau bahkan ada yang terpuruk dan menjadi pecundang. Fase yang ketiga adalah fase dimana manusia begitu menyadari akan manfaat dirinya buat sesamanya dan sudah seberapa besar dirinya telah mengabdi kepada kepentingan sesamanya , fase ini saya sebut fase " Siapa Saja ", pada umunya fase ini terjadi saat umur 60 tahun keatas. Pada fase ini manusia mengalami fase kesadaran ke-Tuhanan yang tinggi , kesadaran akan umur yang sudah tidak lama lagi untuk meninggal sehingga pada fase ini manusia akan berusaha menjadi manusia religius dan mempunyai manfaat bagi setiap manusia yang ada. Sehingga manusia akan berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan dan mempunyai banyak manfaat bagi sesama manusia. Tapi pertanyaannya apakah setiap manusia akan mencapai umur diatas 60 tahun tersebut ? ,WaAllahu a'lam hanya Allah yang tahu.

    Sebagai seorang pribadi yang normal sayapun mengalami fase-fase kehidupan diatas fase dimana saya ingin mendapatkan pengakuan fase dimana eksistensi saya diakui oleh banyak orang. Keinginan begitu kuat hasil didikan orang tua saya bahwa hidup ini kalau mau terkenal dan diakui eksistensi saya hanya dua pilihannya  yaitu menjadi yang terjelek atau menjadi yang terbaik, karena yang ter itulah yang akan diakui eksistensinya, cuma bedanya untuk menjadi yang terjelek tidak memerlukan proses yang panjang dan sulit tetapi untuk menjadi yang terbaik memerlukan proses yang panjang, rumit , penuh halangan dan rintangan, kerja keras, keyakinan yang kuat serta menyerahkan hasilnya sepenuhnya kepada Allah SWT. Setiap manusia pada dasarnya dilahirkan dalam keadaan yang suci, baik  sehingga dari dalam hati yang paling dalam setiap manusia akan memilih cara yang terbaik untuk mendapatkan pengakuan eksistensinya, begitu juga saya , diri saya selalu terpacu untuk menjadi yang terbaik terhebat dalam apapun dimanapun dan kapanpun serta dalam karya apapun. Sejak mulai dari bangku sekolah dasar sampai dengan SMA  saya selalu bertekat untuk menjadi yang terbaik dalam setiap semester Indeks Prestasi saya selalu pada urutan tiga besar dan yang paling sering selalu mendapat peringkat nomor satu. Juara kelas adalah satu kebiasaan saat saya disekolah baik SD,SMP, maupun SMA. Nilai Ebtanas Murni saya saat SD mencapai peringkat tertinggi satu sekolah, ketika saya SMP Nilai Ebtanas Murni saya bahkan mencapai teertinggi se Kabupaten dan juara ke dua Nilai Ebtanas Murni saya ketika SMA. Sampai dengan kuliahpun saya selalu berkomitmen untuk tetap menjadi yang terbaik. Satu komitmen yang kuat pada setiap langkah saya untuk selalu ingin menjadi yang terbaik.


   
Menjadi yang terbaik dalam hidup saya adalah hal yang selalu saya ingin wujudkan, begitu juga dalam kehidupan pekerjaan saya dibidang marketing yang saya tekuni, saya sadar bahwa untuk menjadi yang terbaik saya  harus totalitas, tidak boleh setengah- setengah, ihklas , dan yang pasti saya harus rela berkorban baik waktu, tenaga maupun fikiran serta bekerja lebih keras dari apa yang orang lain kerjakan. satu rumus yang simple tapi tidak banyak orang yang melakukannya. Ada satu alasan kenapa dalam hidup saya selalu ingin menjadi yang terbaik dan kanapa saya harus melakukan hal yang terbaik saat itu juga. Pada suatu saat, waktu itu dibulan puasa saya mengikuti pengajian dan saat itu kebetulan membahas salah satu surat di Alquran yaitu surat Al-asr, tafsir surat ini begitu menyadarkan saya bahwa bagaimana kita mensyukuri nikmat Allah yang bernama waktu. Anugrah yang begitu luar biasa kalau semua orang memahaminya yang di berikan Allah secara gratis , saya , anda semua tidak perlu membayar untuk mendapatkan nikmat yang bernama waktu. Setiap manusia kecenderungan akan menghargai sesuatu yang dia dapatkan dengan usaha ataupun mengeluarkan sejumlah uang untuk mendapatkannya padahal Allah menyediakan banyak hal yang gratis dan tidak memerlukan usaha untuk mendapatkannya seperti udara, waktu sinar matahari dsb, mungkin karena gratis itulah penghargaan kita manusia menjadi urutan yang paling bawah. Penggalan 3 ayat pertama surat itu membuat saya begitu tertegun dan seolah- olah saya begitu menyadari sayalah orang yang paling tidak bersyukur . Ayat pertama mengatakan " Demi Masa " pengertian ini begitu dalam bahwa setiap kita sesungguhnya diberikan masa yang berbeda beda dalam menjalani kehidupan ini, ada yang hanya 5 tahun , 20 tahun, 60 tahun atau bahkan ada yang 100 tahun masa yang diberikan Allah kepada setiap manusia , dan berapa lama masa yang diberikan Allah kepada saya hanya Allah sendiri yang mengetahuinya. Ketika itu saya teringat saat tadi pagi saya berkunjung kerumah tetangga saya yang baru meninggal, dia meninggalkan 2 orang anak kecil dan seorang istri yang tidak bekerja, tetapi saya yakin tetangga saya meninggalkan keluarganya dalam keadaan tersenyum karena dia meninggalkan klaim asuransi sebesar satu milyar untuk kelanjutan kehidupan keluarganya. Saat itu saya benar-benar menangis sejadi-jadinya saya ternyata belum memberikan proteksi apapun kepada keluarga saya dan saya belum bisa meninggalkan apapun saat itu untuk kelangsungan hidup keluarga saya, saya tidak bisa membayangkan ketika saat itu saya dipanggil Allah apa yang terjadi dalam kehidupan istri dan anak saya. Seandainya saat itu terjadi pada diri saya mungkin sayalah orang yang paling tidak bertanggung jawab didunia ini dan orang yang paling menyesal dalam kehidupan di dunia ini. Saat itu dalam fikiran saya hanya ada dua pilihan , saya mati dahulu sebelum saya berhasil memproteteksi keluarga saya ataukah saya berhasil memproteksi dan memberikan bekal kepada mereka apabila saatnya waktu itu tiba, itulah kesadaran saya yang hakiki bahwa saya harus memanfaatkan waktu yang ada saat itu dengan sebaik- baiknya, tidak menunda - nunda pekerjaan apalagi hanya sekedar beranggapan bahwa saya bisa kerjakan dilain waktu, saya begitu sadar belum tentu besok apakah saya masih bisa melihat matahari terbit kembali.

      Penggalan ayat kedua yaitu " Sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi " ayat ini begitu menampar saya bahwa sebenarnya selama ini saya kurang menghargai waktu dan lebih menggunakannya dalam hal- hal yang justru tidak memiliki manfaat buat kehidupan saya, terlalu banyak bermain, banyak hura- hura dan tidak bertanggung jawab terhadap waktu yang sudah diberikan dalam kehidupan saya. Saya lupa akan makna dan arti tujuan kehidupan saya. Saya lupa bahwa saya hidup dimasa akan datang dan saya lupa bahwa saya ternyata belum mempunyai apa-apa dalam mempersiapkannya. Saya benar- benar merasakan orang yang paling merugi dalam kehidupan ini, orang yang hanya membiarkan waktu berlalu tanpa makna. Pada ayat ketiga saya baru mengerti bagaimana seharusnya saya mengisi serta mensyukuri karunia waktu, dalam ayat yang ketiga diterangkan siapa orang-orang yang tidak merugi dalam hidupnya yaitu " Orang-orang yang ber-Iman dan beramal Sholeh " . Menurut saya keimanan sangat berkaitan dengan keyakinan, keyakinan akan Allah dan seluruh alam semesta ciptaannya, keyakinan yang harus dimiliki oleh setiap orang dalam kehidupannya untuk menjadikan kenyataan impian-impian yang akan dicapai dalam kehidupannya. Jadi dalam setiap langkah apakah kaitan hubungan kita dengan Allah ataupun kaitan bagaimana kita merencanakan masa depan saya , maka keyakinanlah inti supaya kita tidak menyia-nyiakan waktu dengan percuma , keyakinan selalu menjadikan saya hidup dan terus berkreasi sebelum tujuan dalam hidup saya tercapai dan waktu yang diberikan Allah tiba, saya begitu percaya dengan keyakinan segalanya akan mudah, segalanya akan gampang dan dengan keyakinan semua yang menjadi tujuan dalam hidup saya pasti bisa saya wujudkan tentunya dengan ridho dari Allah SWT. Beramal sholeh dalam artian berbuat kebaikan adalah bagaimana cara saya harus mengisi dan mensyukuri nikmat waktu , tentunya beramal sholeh dalam artian yang luas bahwa saya harus selalu berbuat baik kepada siapapun kapanpun dan dimanapun. Pertanyaan yang saat itu muncul adalah apakah saya sudah berbuat baik terhadap keluarga saya ? , padahal ini adalah lingkungan yang paling kecil dalam kehidupan saya , betapa naifnya ternyata dalam sekala kecilpun saya masih belum menjadi orang yang baik, saya belum bisa berikan apapun apabila Allah saat itu memanggil saya , perasaan saya berkecamuk bagaimana nasib mereka , bagaimana kehidupan mereka selanjutnya yang bisa saya lakukan hanyalah menangisi selang waktu yang sudah saya lalui selama ini tanpa ada sesuatu yang saya hasilkan untuk ditinggalkan kepada keluarga kecil saya.


    Bermula dari sinilah saya begitu bertekat dalam kehidupan saya, tidak akan pernah saya akan menyerah dan tidak akan saya biarkan waktu saya berlalu begitu saja, karena ternyata waktu itu justru anugrah yang paling mahal harganya tapi sayangnya tidak semua orang menyadarinya. Setiap hari saya isi waktu saya untuk mewujudkan semua yang menjadi impian saya , apa yang menjadi tujuan saya dan apa yang menjadi tanggung jawab saya. Banyak hal pengalaman serta anugrah yang luar biasa yang saya dapatkan ketika saya berfikir bagaimana saya mengisi waktu saya dengan keyakinan dan hal-hal untuk berbuat yang terbaik, dua tahun kemudian saat saya berumur 28 tahun saya sudah memiliki apa yang orang inginkan, rumah, 2 buah mobil, proteksi asuransi seluruh keluarga saya serta sedikit deposito untuk membiayai kehidupan kami kelak, hal yang saya tidak dapatkan sebelumnya ketika tingkat kesadaran akan memanfaatkan waktu saya belum sepenuhnya benar. Saya sadari setiap manusia diberikan oleh Allah waktu yang sama dalam satu hari satu malam yaitu 24 jam tapi hanya orang-orang yang bisa memanfaatkan waktu dengan kualitas yang baik yang akan mendapatkan yang dia inginkan sesuatu tujuan awal hidupnya. Saya menemukan jati diri saya dari orang yang bukan apa-apa menjadi orang yang bisa sedikit bangga atas apa yang saya raih, disinilah " Siapa aku " dalam hidup saya saya dapatkan fase dimana saya mendapatkan pengakuan atas apa yang saya lakukan, eksistensi saya diakui banyak orang dan bisa menjadi inspirasi buat banyak orang dan saya capai saat saya dibawah umur rata-rata yang dibutuhkan banyak orang untuk mendapatkan fase "Siapa aku" yaitu umur 30 tahun.

   Ketika saya mendapatkan fase Siapa Aku, saya merasa orang yang paling sukses orang yang paling bahagia dan orang yang paling hebat dan g ada seorangpun yang bisa lebih hebat dari saya. Ternyata dikemudian hari itulah ujian paling berat buat setiap manusia yang melalui fase ini, fase " Siapa Kamu " , fase dimana setiap manusia merasa dirinya paling hebat, paling super dan orang lain bukanlah apa-apa, pada saat inilah sayapun mulai sombong dan seolah semua itu karena hasil kerja keras saya dan karena kemampuan yang saya miliki, sampai suatu saat saya tersadar ketika saya membaca buku tentang Eisntein dalam bukunya dia bilang " Tanpa kita sadari sesungguhnya kita diciptakan didunia ini untuk orang lain " . Saya terdiam sejenak dan mendalami arti semua itu bahwa apa yang saya dapatkan apa yang saya peroleh dan adanya saya diberikan kelebihan oleh Allah adalah bukan hanya untuk kita dan keluarga kita saja tetapi juga untuk orang lain. Pemahaman bahwa Saya diciptakan untuk orang lain semakin subur ketika pada 2008 saya dikirim ke Manado sebagai kepala cabang, kondisi dimana saya biasa diawasi oleh atasan saya, berubah menjadi sayalah pengawas dan pengambil kebijakan dalam kantor yang saya pimpin, banyak orang sukses ketika dia ada pengawasan dalam hidupnya tapi banyak orang gagal setelah dia lepas dari pengawasan orang lain, dalam bahasa lain banyak orang sukses ketika dia dipimpin tapi banyak Orang gagal ketika dia memimpin karena yang gagal biasanya mengalami power sindrom. Sebuah sindrom yang membuat lupa diri bahwa kekuasaan yang dimiliki harusnya membuat dia lebih rajin tetapi malah membuat dirinya menjadi lupa karena merasa bebas dari pengawasan orang lain sehingga dia berbuat semaunya sendiri. Saya patut bersyukur bahwa saya telah menyadari sebelum saya berangkat untuk memimpin cabang manado, saya sadar bahwa saya akan hebat kalau yang saya pimpin hebat dan saya akan berhasil kalau yang saya pimpin berhasil. Fikiran saya saat itu adalah menjadikan " Siapa Kamu" dalam artian saya staff-staff saya adalah bagian terpenting untuk mencapai apa yang saya inginkan dalam kehidupan ini. Dalam perspektif saya cara bagaimana memperbesar penghasilan saya adalah menjadikan seluruh staff saya berpenghasilan besar. Sekali lagi saya berhasil melampaui fase siapa saja dalam umur yang relatif muda 31 tahun.


   
Sebuah massage BB dari temen saya SMP kembali memberikan perubahan dalam cara pandang kehidupan saya bahwa hidup ini hanyalah fatamorgana apa yang kita kejar selama ini hanyalah semu belaka sesungguhnya hidup ini adalah perputaran peran yang setiap saat kita akan berganti peran sesuai amanah dari Allah SWT, kalau kita diberi peran dan kita berhasil dalam menjalankan peran itu dengan baik maka kita kan diberikan peran yang jauh lebih besar. Kadang orang stress, marah , bunuh diri manakala kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupnya padahal kalau dipahami lebih jauh bahwa semua itu akan hilang dan akan kita tinggalkan ketika kita menghadap sang maha pencipta Allah SWT. Tidak ada yang kita bawa sedikit pun dan tidak ada yang akan bisa menolong kita dikehidupan kemudian kecuali kita meninggalkan apa yang kita peroleh didunia ini dan dapat bermanfaat bagi orang banyak. Peran inilah yang begitu mengilhami saya, saya begitu sadar bahwa saya diberikan kelebihan-kelebihan yang saya miliki semua itu membuat saya harus lebih bermanfaat untuk banyak orang. Ada dua amanah yang saya sadari saat itu harus saya jalani yaitu sebagai kepala cabang dan sebagai manusia yang diberikan kelebihan baik fisik, otak, maupun harta yang harus saya peruntukkan untuk banyak orang. Fase yang saya sebut " Siapa Saja " .Amanah sebagai kepala cabang adalah amanah yang harus saya pegang dimana seluruh staff saya baik marketing dan maupun back office adalah amanah yang harus saya jalankan dengan baik. Seluruh staff yang ada baik marketing maupun back office haruslah mendapatkan penghasilan yang besar karena mereka semua adalah tulang punggung buat keluarganya masing- masing, amat sangat berdosa bila mereka tidak berhasil dan gagal menjadi tulang punggung bagi keluarganya masing-masing. Tekat saya begitu kuat bahwa semua harus sukses dan semua harus berhasil karena itulah amanah yang diberikan kepada saya, sehingga saya tidak mengenal lelah dan selalu berbuat agar semua yang ada dikantor saya mencapai semua cita-cita yang diinginkan dan yang pasti semua itu butuh kerja keras dan kerja sama.


    Amanah yang tidak kalah penting adalah amanah bahwa saya diberikan berbagai macam kelebihan baik fisik , otak , harta dan kemampuan adalah untuk orang banyak, siapa saja dan dimana saja. Kesadaran itupun mucul ketika saya menyaksikan televisi dalam acara ceramah pagi bersama KH. Yusuf Mansyur. Yang waktu itu membahas MIracle of Giving, satu tema bahwa keajaiban memberi. Saya teringat ,yang disamapaikan beliau waktu itu "  barang siapa memberi satu kebaikan maka Allah akan mambayar dengan sepuluh kebaikan " . Menurut beliau matematika manusia dengan matematika Allah berbeda. Dalam uraiannya satu contoh apabila seseorang berpenghasilan satu juta kalau dia belanjakan 100 ribu untuk kebaikan maka matematika manusia akan mengatakan sisa uangnya adalah 900 ribu , tetapi dalam perspektif matematika Allah 100 ribu akan dibayar oleh Allah 10 kali lipat sehingga akan dibayar oleh Allah menjadi 1 juta , sehingga hasil akhirnya adalah uangnya akan berjumlah  1,9 juta , 900 ribu sisa dari yang diambil 100 ribu dan satu juta bayaran dari Allah, dahsyatnya ketika kita memberi. Tetapi dari lubuk hati yang paling dalam, saya hanya ingin ihklas karena  bentuk syukur saya atas karunia yang diberikan semua kelebihan-kelebihan saya yang diberikan Allah SWT. Saya hanya ingin kehidupan saya lebih berguna buat orang banyak dan saya hanya ingin apa yang saya lakukan dapat bermanfaat buat orang banyak, tidak perduli dia siapa , suku apa , tinggalnya dimana, saya tidak memandang apakah dia jahat ataupun baik terhadap saya. Dalam keadaan seperti ini saya lebih bisa menemukan ketenangan batin dan mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Alhamdulillah sampai saat ini saya diberi amanah 396 anak yatim yang tersebar diberbagai daerah dan wilayah yang menjadi tanggung jawab saya setiap bulannya, hal inilah yang membuat saya terus terpacu dalam bekerja dan berkarya untuk mendapatkan penghasilan yang besar karena saya harus mempunyai penghasilan yang besar untuk kelangsungan hidup mereka. Rasa capek , lelah seakan hilang sirna saat melihat tawa-tawa mereka bisa menikmati kehidupan mereka yang bisa mereka nikmati walaupun tidak bersama orang tua mereka. Sebuah ucapan terima kasih dari pengasuh mereka seakan membuat menangis diri saya haru, mensyukuri betapa nikmat Allah terhadap saya begitu besar diberi kelebihan untuk bisa menyalurkan rejeki Allah kepada mereka melalui tangan saya. Kalau saya bisa pasti anda bisa , semoga anda juga diberikan kelapangan rejeki yang besar untuk bisa hidup menjadi penyambung rejeki Allah untuk mereka yang membutuhkan. Semoga , amin ya rabb. 



Mencapai Penghasilan Diluar Nalar Manusia



    Saya sangat bersyukur sekali dibesarkan di sebuah keluarga yang sederhana tetapi keluarga yang didalamnya selalu diajarkan bagaimana makna kejujuran dan tanggung jawab sebagai dasar dalam mengarungi kehidupan ini. Ayah saya adalah sosok yang tetap menjadi teladan bagi saya dalam setiap mengambil keputusan dalam kehidupan saya semenjak saya masih kecil sampai saat inipun dalam kehidupan saya. Ayah saya yang hanya pegawai biasa dengan penghasilan yang biasa tapi memberikan teladan yang sangat luar biasa bagaimana seharusnya menjadi ayah dari anak-anaknya. Sebagai seorang yang hidup disebuah desa yang kecil yang kebanyakan orang berfikir sederhana yang penting hidup dan bisa makan, disinilah keistimewaan ayah saya dibandingkan orang yang bahkan lebih mampu dari kehidupan kami yaitu beliau berfikir warisan terbaik buat anak- anaknya adalah pendidikan yang tinggi dan layak untuk bekal dimasa mendatang dan bukan harta yang banyak seperti kebanyakan pemikiran orang-orang disekitar kami. Masih terasa kemarin beliau mengatakan kepada anak-anaknya " Kalian tidak akan saya bekali harta yang melimpah karena ayah tidak memiliki it
u tetapi ayah akan bekerja sekuat tenaga selama ayah mampu supaya kalian mendapatkan pendidikan yang layak untuk bekal kehidupan kalian nanti, harta seberapapun banyaknya akan habis dalam waktu sekejap jika kalian tidak bisa mengelolanya tapi ilmu , pendidikan akan kalian gunakan dan akan tetap ada sealama kalian hidup". Buat ayah saya hidupnya sudah tidak terlalu penting tapi buat beliau kehidupan anak-anaknya adalah yang utama , tidak terlalu penting apakah kehidupan beliau susah ataupun tidak yang penting anak-anaknya mendapatkan pendidikan dan penghidupan yang layak di kemudian hari. Suatu pandangan dan sikap seorang ayah yang selalu saya teladani dan menjadi inspirasi ketika nanti saya berkeluarga dan memilik tanggaung jawab anak.


 

       Sikap dan pandangan orang tua saya serta pesan beliau itulah yang begitu kuat melekat pada diri saya , buat saya hidup ini adalah sudah kesempatan yang kedua dan tidak akan ada kesempatan yang lain lagi. Bagi saya apapun yang saya lakukan dan apapun yang ingin saya wujudkan adalah hal- hal yang terbaik dan yang utama saya ingin selalu terus berusaha menjadi yang terbaik. Dalam pendidikan sebagai bekal utama dalam kehidupan, sayapun melakukan yang terbaik saya selalu masuk sekolah dan universitas terbaik dan selalu menjadi juara pertama dalam bidang akademik, sederet prestasi akademik saya capai seperti juara olimpiade matematika dan fisika tingkat nasional saat duduk di bangku SMA dan meraih Nilai Ebtanas Murni terbaik se kabupaten saat SMP. Kebiasaan yang ditanamkan ayah saya untuk selalu menjadi yang terbaik dan menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT  begitu mendarah daging sehingga kebiasaan inipun mengalir dalam setiap langkah dan pekerjaan saya. Karena saya begitu sadar bahwa kesempatan dan anugrah waktu yang sudah diberikan Yang Maha Kuasa tidak pernah berulang kembali. Sebagai keluarga yang sederhana dengan penghasilan yang standard saya begitu bangga bahwa ayah saya mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi walaupun kadang harus berhutang sana sini untuk menutupi biaya pendidikan anak- anaknya. Hingga pada suatu ketika saat  ketiga kakak saya  semua diperguruan tinggi dan biaya yang begitu besar sedangkan penghasilan yang tidak mencukupi, ayah saya bicara kepada saya dengan berat hati untuk berhenti dulu kuliah karena tidak mampu kalau harus membiayai empat orang sekaligus, satu pukulan telak buat ayah saya dan saya merasakan betapa bersesdihnya beliau saat itu padahal pada saat itu saya barusan lulus UMPTN dan diterima di Fakultas Teknik Sipil Universitas Indonesia , Universitas faforit yang belum tentu orang lain bisa memasukinya. Tapi permintaan itupun saya sikapi dengan rasa bangga dan sayapun bukan orang yang mudah menyerah dengan keadaan, sayapun berusaha dengan upaya sendiri untuk terus kuliah dan akhirnya bisa lulus dari FTUI walaupun untuk melalui itu semua dengan berbagai macam tantangan dan kesulitan yang harus saya hadapi.


        Keadaan dimana saya diminta ayah saya untuk berhenti kuliah adalah salah satu kejadian luar biasa dalam hidup saya, dan itu menjadikan pelajaran buat saya kelak bahwa saya tidak boleh berpenghasilan kecil dan seadanya supaya yang saya alami tidak terulang dalam kehidupan anak- anak saya. Mereka tidak boleh mendapatkan gizi yang kurang seperti yang saya alami dan mereka juga tidak boleh mendengar kata harus menunda dulu pendidikan karena saya tidak mampu menyediakan biaya buat mereka dalam hatikecil saya berjanji tidak boleh dan tidak akan terulang untuk anak-anak saya. Ketika saya memutuskan untuk menikah saat itulah saya memulai babak baru kehidupan saya dimana saya harus lebih dewasa dan lebih bertanggung jawab dalam kehidupan saya dan keluarga yang saya tanggung. Jujur saja saya berterima kasih yang tulus kepada istri saya yang menerima keadaan saya yang pada saat itu punya tanggungan hutang sekitar 500 juta rupiah akibat kebodohan saya dalam menjalankan bisnis perdagangan berjangka yaitu memberikan fix income kepada nasabah yang nanti akan saya ceritakan pada bagian selanjutnya karena saya memberikan fix income  dan menikah hanya dengan modal 7,5 juta rupiah hanya cukup buat beli cincin , Itulah kenyataan yang harus kami alami , memulai kehidupan dengan kondisi minus. 



       Kehidupan baru sebagai kepala rumah tangga dengan berbagai kesulitannya semua harus saya  hadapi, saya begitu yakin Allah tidak akan memberi kesulitan yang tidak mungkin untuk saya selesaikan. Persoalan yang pertama kali saya selesaikan adalah bagaimana saya menyelesaikan tanggungan yang sejumlah sekitar 500 juta, uang yang sama sekali tidak pernah saya pakai tetapi harus saya kembalikan kepada yang punya akibat kebodohan yang saya lakukan, saya lakukan negosiasi lagi dengan pemilik uang untuk bisa mencicil sesuai kemampuan saya, dalam benak saya yang penting saya beritikad baik mengembalikan pasti mereka mau menerimanya. Inilah masa paling sulit yang saya alami dalam kehidupan saya dan itu harus saya jalani bukan untuk saya hindari. Dalam hal negosiasi inipun tidak semua pemilik uang menerima dengan baik, bahkan saya harus berurusan dengan polisi ketika saya dilaporkan oleh salah satu pemilik uang karena tidak terima saya cicil, semua saya hadapi dengan kayakinan bahwa persoalan ini pasti akan selesai. Disamping saya harus menghadapi semua persoalan tersebut saya juga mempunyai keluarga yang harus saya nafkahi sekaligus membangun impian-impian hidup dimasa depan. Ditengah persoalan itu sayapun harus menghadapi tekanan harus segera pindah rumah dari mertua karena saya tidak tega setiap hari harus mengganggu setiap kali saya pulang larut dan mengganggu ketenangan beristirahat ayah mertua saya. Terus terang saya sangat bersyukur saya bekerja disebuah perusahaan yang tidak membatasi berapa penghasilan yang saya dapat. Didikan ayah saya bahwa saya harus menjadi manusia yang bertanggung jawab menjadikan saya selalu kuat dan terus berusaha dan berusaha menjalani kehidupan dengan ihklas dan tetap berkeyakian persoalan pasti akan selesai, Allah pasti akan memperhatiakn hambanya yang selalu berusaha dan tidak banyak mengeluh.


      Satu demi satu persoalanpun terselesaikan dan bahkan enam bulan kemudian saya bisa membeli rumah dengan dana cash 370 juta rupiah, walaupun semua tanggungan saya belum selesai akan tetapi dengan memiliki rumah sendiri minimal saya mendapatkan ketenangan untuk memulai hidup baru. Suatu penghasilan yang diluar nalar manusia saya dapatkan semua itu dalam kurun waktu yang singkat, semua itu saya peroleh tidak dengan mudah tapi semua itu saya lakukan dengan penuh perjuangan dan kerja keras serta kemurahan Allah dalam memberikan rezeki kepada saya. Dari rumah inilah saya mulai menapaki dan menata kehidupan baru, saya harus membangun keluarga yang tidak boleh kekurangan dan harus mendapatkan pendidikan yang seharusnya. Satu kejadian yang saya jadikan pelajaran dalam kehidupan saya adalah ketika tetangga saya meninggal dunia dalam usia yang cukup muda, dia meninggalkan dua orang anak yang masih kecil dan seorang istri yang tidak bekerja, saya sempat mendengar percakapan dengan istri saya bahwa meskipun dia ditinggalkan oleh suaminya tapi masih merasa bersyukur karen suaminya ikut asuransi dan mendapatkan klaim 1 (satu) Milyar rupiah satu jumlah peninggalan yang cukup besar, sehingga dia tidak terlalu merisaukan kelanjutan pendidikan anak- anaknya. Dalam hati saya bagaimana kalau itu semua terjadi pada diri saya dan sampai saat itupun saya tidak memiliki pertanggungan sama sekali. Dari saat itulah saya begitu sadar bahwa hidup kedepan dan sampai berapa umur saya hanya Allah SWT yang tau dan saya harus memprotek keluarga saya jika kejadian seperti tetengga saya itu terjadi terhadap saya dan pelajaran yang saya ambil ternyata hidup tidak hanya sekedar cukup untuk makan, punya tempat tinggal dan sedikit hiburan.. Saya pun ingin memprotek saya pribadi dan keluarga saya agar saya istri saya siap menghadapi semua itu kalau suatu saat terjadi sama saya. Untuk pertanggungan saya pribadi dan istri sayapun membutuhkan uang 200 juta rupiah dengan nilai proteksi masing- masing satu Milyar dengan begitu kalau saya meninggal kelak istri saya berhak mendapatkan pertanggungan sebesar 2 ( dua ) milyar. Sayapun berusaha mendapatkan uang tersebut dari pekerjaan saya sebagai marketing di industri perdagangan berjangka ini. Satu setengah tahun kemudian lahirlah anak pertama saya dan lagi- lagi saya harus memikirkan biaya pendidikannya walaupun anak saya mungkin masih 4 tahun kemudian. Dan ketika dia lahir sayapun sudah protek biaya pendidikannya sampai dengan dia lulus kuliah dan setelah lulus kuliahpun dia akan mendapatkan sejumlah uang ketika dia mau membuka usaha. Saya berhasil memberikan proteksi kehidupan keluarga saya yang waktu itu saya anggarkan sebesar 500 juta untuk kami berempat hanya dalam kurun waktu satu tahun seperti apa yang saya rencanakan walaupun pada saat itu anak saya yang kedua belum lahir dan uang itupun lagi lagi saya perolah di pekerjaan yang saya tekuni sebagai marketing disebuah perusahaan di bidang perdagangan berjangka. Kehidupan sayapun makin tenang dan kekhawatiranpun kalau-kalau suatu saat terjadi hal- hal yang tidak di inginkan kami semua sudah siap.Seandainyapun saya meninggal seperti yang dialami tetangga saya lebih dulu setidaknya istri saya akan mendapatkan pertanggungan sebesar 6 ( enam) Milyar dan kalau misalkan dia mau bisa buat modal untuk menikah lagi. Dalam kurun waktu dua tahun dimana saya harus membayar hutang dan membeli rumah, saya juga bisa mendapatkan sebuah mobil BMW dan sebuah mobil honda jazz buat istri saya, suatu pencapaian yang susah dilogikakan, bukan semata- mata hasil usaha dan kerja keras saya pribadi, tetapi hasil kerja keras tim serta kemurahan Allah SWT yang telah memberikan segala sesuatu bagi hambanya yang mau berusaha.


      Perjalanan dalam bisnis yang saya geluti tidak hanya berhenti sampai disini. Pertengahan 2008 sayapun memulai langkah baru sebagai kepala cabang dikota yang sama sekali tidak pernah terfikir untuk tinggal disana. Manado kota di ujung timur laut pulau Sulawesi. Situasi kondisi serta tempat baru bukan hal mudah untuk ditaklukkan apalagi didaerah yang budaya, adat istiadat serta bahasa yang baru. Saya berangkat memulai perjuangan yang baru dengan harapan yang jauh lebih besar dengan ke-15 orang yang sudah saya anggap sebagai adik, teman serta saudara saya. Semua saya mulai dari nol kembali tetapi dengan kesempatan dan peluang yang jauh lebih besar , dengan satu niat yang kuat dalam hatipun saya berkata " inilah masa depan saya berikutnya yang Allah berikan ". Kerasnya perjuangan ditempat yang baru ini hingga saat ini hanya tersisa 8 orang saja dari lima belas orang awalnya. Biaya hidup tinggi serta keadaan yang berat terutama pola berfikir SDM setempat membuat saya dan teman- teman harus bekerja extra keras, untuk mencapai hasil maksimal, hingga tiga tahun kemudian jumlah total SDM di kantor menjadi sekitar 400 orang suatu hasil yang patut disyukuri, hasil yang kita peroleh dari kultur masyarakat dengan tingkat gengsi yang tinggi, alergi terhadap marketing dan hanya mau bekerja dengan  mendapatkan penghasilan yang sudah pasti setiap bulannya, hasil yang tidak boleh difikir menggunakan logika manusia saja. 


     Dalam masa perjuangan di Manado saya patok beberapa macam hal yang ingin saya wujudkan. Impian saya saat itu saya ingin memberikan hadiah kepada kedua orang tua saya serta mertua saya untuk beribadah haji ketanah suci, saya ingin membawa keluarga saya untuk umrah dan naik haji serta punya rumah lagi di Manado. Begitu besarnya keinginan saya untuk membiayai ongkos naik haji orang tua saya menjadi cambuk tersendiri untuk segera mewujudkannya, dalam benak saya umur manusia hanya Allah yang tau jangan sampai saya tidak bisa membiayai mereka naik haji terlebih dulu mereka dipanggil yang kuasa. Betapa merasa durhakanya saya kalau itu terjadi, walaupun kita hanya boleh berencana Allah yang menentukannya. Mereka yang telah menyebabkan saya ada didunia ,membesarkan saya dan memberi pelajaran makna hidup didunia dengan berbagai macam dinamikanya, mereka yang telah mengenalkan kebesaran Allah dan mengajarkan untuk selalu bersyukur dalam menjalani kehidupan ini. Alhamdulillah dalam kurun waktu tiga tahun impian-impian itu dapat terwujud, biaya naik haji kedua orang tua saya, biaya naik haji ibu mertua saya, biaya naik haji saya dan istri saya, biaya umrah kami sekeluarga serta rumah kami seharga 3,3 Milyar-pun sudah berdiri kokoh menjadi pelindung keluarga saya sehari- hari, dan itu semua terwujud dalam waktu kurang dari 3 tahun, suatu hasil- lagi yang tidak bisa dilogikakan dengan akal manusia dan semua itu tidak akan terwujud tanpa kerja keras saya , saudara- saudara saya ,teman teman saya semua satu kantor serta ijin dari Allah SWT.

Senin, 25 Maret 2013

Pilihan banyak orang belum tentu terbaik buat kita



             
    Sebagai sarjana Teknik Sipil dari Universitas Indonesia ( UI ) saya tidak pernah sama sekali membayangkan akan bekerja sebagai seorang marketing, bahkan terlintas difikiranpun tidak pernah ada. Semenjak lulus dari Fakultas Teknik Sipil UI saya langsung bekerja pada perusahaan pengeboran minyak asing SLUMBERGER dengan gaji yang cukup lumayan saat itu yaitu USD  6500, suatu jumlah yang cukup besar saat itu dengan kurs rupiah yg berkisar saat itu Rp.12.000. Pekerjaan inilah yg sebenarnya saya cita-citakan semenjak saya masuk di fakultas Teknik Sipil UI. Selama  kurang lebih 2 tahun saya bekerja di Slumberger dari tugas mulai di Bangkok, Perth, Afrika selatan, Amsterdam, New York, hingga di Caracas Venezuela. Pekerjaan ini pada awalnya begitu saya impikan dan pasti setiap orang menginginkanya. Pada awalnya saya begitu menikmati bekerja di perusahaan ini di tambah dengan pujian dari banyak orang karena hanya segelintir orang saja yang bisa masuk di perusahaan ini. Pergi keluar negeri yg sebelumnya tidak pernah terbayangkan akan mengalaminya dan segudang uang yang saya miliki dari penghasilan saya.

           Seperti halnya orang kebanyakan saya pun sangat bahagia pada awalnya bekerja di Slumberger ini. Seiring bergulirnya waktu rutinitasku di Slumberger inipun saya rasa cukup membosankan, dua minggu di laut dan 2 minggu di darat. Saat hari besok akan bertugas ke tempat pengeboran di laut, rasanya seperti mau pergi ke neraka, komunikasi tidak diperbolehkan dan kalaupun ada kejadian di tengah laut tidak akan ada pemberitaan apapun. Hal yg paling berat dalam pekerjaan ini adalah pergantian suhu udara yang ekstrim. Di malam hari suhu udara bisa mencapai -8 'C dan kalau siang hari bisa mencapai 34 'C dan saya dituntut untuk memiliki daya tahan tubuh yg bagus. Rutinitas itu ternyata cukup menyiksa saya karena pada dasarnya saya lebih suka bergumul dengan manusia lain dari pada dengan mesin. Sebagai manusia yg merindukan selalu berkumpul dengan keluarga, sering menimbulkan kerinduan pada keluarga ketika berada di negeri orang . Jatah cuti yang diberikan satu tahun hanya 3 minggu membuat saat saat waktu cuti adalah hal yg sangat saya rindukan terutama saya ingin ketika momen lebaran. Selama dua tahun bekerja saya ternyata 2 kali lebaran tidak bisa menikmati berlebaran dengan keluarga, malah lebaran di negeri orang. Dan ini menjadi kesedihan tersendiri bagi saya. Pada saatnya dapat cuti 3 minggupun suatu waktu saya pulang ke tanah air menempuh perjalanan selama 23 jam dari Caracas, Newyork, Amsterdam, Singapura, Jakarta, Surabaya ditambah 6 jam perjalanan saya ke Banyuwangi untuk bertemu dengan kedua orang tua saya. Belum genap 5 jam saya bertemu orang tua saya di Banyuwangi, saya mendapat telpon dari kantor Slumberger Cilandak Jakarta, saya diminta kembali ke Caracas karena alasan teknis ditempat kerja, malam itupun saya berangkat ke surabaya untuk mengejar penerbangan terakhir karena keesokan hari saya harus terbang ke Caracas, suatu peristiwa yg sangat tidak mengenakkan dalam perjalanan hidup saya.

         Setelah saya menjalani karir saya diperusahaan Slumberger ini selama dua Tahun di Venezuela terjadi nasionalisasi perusahaan perusahaan asing, sehingga kebijakan Presiden Hugo Chaves saat itu, memaksa untuk Slumberger menutup untuk sementara pengeborannya di venezuela, saya pun dikembalikan ke Indonesia dan diperbantukan di Slumberger Indonesia di Prabumulih. Yang sialnya lagi gaji saya distandardkan dengan di Indonesia hingga tinggal 20 % saja , satu jumlah yg minim buat kehidupan yang biasanya  penghasilannya 5 kali lipat dari yang sekarang. Dua bulan diperbantukan di Prabumulih saya mendapatkan panggilan lagi untuk ditempatkan di London. Satu pilihan yang sulit karena orang tua saya melarang untuk pergi ke London. Karena berbagai kejadian dan keadaan selama bekerja di Slumberger akhirnya saya putuskan untuk tidak berangkat dan mengundurkan diri dari Slumberger perusahaan yang saya impikan semenjak saya masuk kuliah di Teknik Sipil UI.
        Berhenti dari Slumberger saya berusaha mencari pekerjaan lain dan diterima di PT. Pembangunan Perumahan ( PT. PP ) sebuah perusahaan kontrkator terkemuka di Indonesia dengan gaji 5  juta perbulan yang pada tahun itu saya tolak. Karena tidak sebesar yang saya dapatkan sebelumnya, saya putuskan untuk tidak saya terima. Perjalanan hidup saya pun berlanjut di Dinas Pekerjaan Umum Prov. Jawa Timur, walaupun harus saya akui bahwa itu adalah KKN karena Ka Dinas PU Jatim saat itu masih kerabat, dan yang paling gila saya ditempatkan pada bagian tender proyek ( bagian yg sangat basah saat itu ). Ketidak cocokan dengan hati nurani menyebabkan saya memutuskan untuk  bekerja di Dinas PU hanya dua bulan saja

        Babak baru cerita awal mula terjun di bisnis perdagangan berjangka ini dimulai dari sini, melalui interview di kawasan Rungkut Industri Surabaya, pada akhir Desember 2002 . Sebelum dimulainya interview saya sempat bertanya-tanya, kapan saya melamar di sebuah perusahaan pembuatan perhiasan emas dan perasaan saya hanya melamar di pekerjaan yg ada kaitannya dengan bidang jurusan saya semasa kuliah. Sampai pada waktunya pun saya dapat giliran untuk interview, satu interview yang aneh saya di interview dengan bahasa mandarin dimana saya sama sekali tidak mengerti, tetapi ada penerjemah yang menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Dalam kebingungan dan tanda tanya apakah saya pernah mengirimkan lamaran pekerjaan diperusahaan emas tersebut sayapun dibuat makin bingung ternyata bidang pekerjaannyapun sama sekali gak nyambung dengan jurusan disiplin ilmu yang saya ambil. Future Trading kata yg begitu asing dan sama sekali belum pernah tahu terlebih seperti apa sistem kerja dan perdagangan indeks ini. 
Sebenarnya saya sudah tidak respek pada awal mulanya karena terlalu asing buat saya, akan tetapi satu hal yang cukup menarik buat saya adalah ketika yang menginterview saya bilang bahwa kalau bekerja di perusahaan ini saya TIDAK MENERIMA GAJI . Satu hal ini yg membuat saya tidak tahu kenapa justru membuat saya ingin melanjutkan interview dengan lebih semangat, bagaimana kita bekerja tidak mendapatkan gaji ?? . Satu hal seperti kata pepatah "  Sesuatu hal yang tidak enak didepan Pasti akan enak di Belakang " . Setelah mendapat penjelasan bahwa penghasilan kita ditentukan oleh kita sendiri dan berapapun jumlah nilai yang ingin kita dapatkan tidak ada batasnya barulah saya memantapkan niat saya untuk meneruskan dan tertarik menekuni bidang future trading ini. Pada prinsipnya saya merasa jauh lebih dihargai karena apa yang kita dapatkan sesuai dengan apa yang kita kerjakan itulah alasan kenapa saya begitu mantap memilih pekerjaan ini.
      Sebagaimana proses dalam dunia baru pasti mengalami yang namanya trainning, saya harus beradabtasi dengan keadaan karena semua yang saya dapat terlalu asing buat saya dan cukup susah saya mengerti saat itu. Dunia yang baru, pengetahuan yang baru, dan yang terpenting sahabat-sahabat baru dari berbagai latar belakang dan disipilin ilmu yang berbeda. Walaupun agak sedikit membosankan dalam trainning tetapi ada satu materi yang sangat menarik buat saya yaitu saat hitung-hitungan berapa penghasilan yang bisa diperolah apabila mendapatkan nasabah tertentu dan bertransaksi sehingga menghasilkan jumlah nominal tertentu. Jujur saat saya berhitung nilai nominal rupiah itu terbayang betapa kayanya kalo saya bisa mendapatkan sekian lot dan saya akan bisa membeli sesuatu yang saya impikan, walaupun sedikit norak saya memimpikan sebuah mobil taruna terbaru. Dalam lamunan itupun saya tersadar lantas siapa yang harus saya jadikan nasabah mengingat nilai nominal yang harus didapatkan adalah minimal 100 juta. satu jumlah yang sangat besar bagi saya dan saya yakin tidak banyak orang yang memiliki uang sejumlah itu sedangkan saya sama sekali tidak ada kenalan orang yang punya uang sejumlah itu dan bahkan baru 2 bulan saya tinggal di Surabaya dan sebelumnya tidak pernah tinggal di kota ini. Satu hal keyakinan saya saat itu adalah selama saya mau menggunakan otak saya untuk berfikir saya pasti bisa. Dan ternyata keyakinan itu yang membuat saya bisa berhasil sampai saya menduduki jabatan kepala cabang kelak di kemudian hari. Tidak ada yang mudah dan tidak ada yang sulit kalau saya mau, pemikiran itu  yang selalu saya ajarkan kepada setiap staff saya ketika saya jadi manager.
           Pilihan untuk berkarir di bisnis perdagangan berjangka ini bukan tanpa hambatan, ejekan dari teman seperti ("masa lulusan Teknik Sipil UI jadi marketing ") , (" kerja dapatkan gaji besa,r di luar negeri lagi, malah berhenti jadi marketing ") . Orang tua ataupun orang-orang terdekat selalu menginginkan pekerjaan yang bersikap pasti- pasti, gaji pasti kerja pasti dan masa depan pasti. Tapi itulah orang tua selalu menginginkan anak-anaknya bisa mandiri dalam kehidupannya akan tetapi kadang seseorang mengartikan yang pasti-pasti hanya identik dengan pekerjaan yang sifatnya sebagai pegawai, bekerja dan mendapatkan gaji setiap bulannya. Kebanyakan seseorang tidak bisa menangkap pesan yang jauh lebih dalam bahwa orang tua  sebenarnya hanya menginginkan anaknya  mandiri dalam kehidupanya, tidak perduli apa jenis pekerjaanya dan dalam bidang apa anaknya bekerja yang terpenting adalah halal dan tidak melanggar hukum. Satu keberuntungan yang sangat saya syukuri saya memiliki orang tua yang memberikan kebebasan kepada saya untuk memilih yang terbaik untuk diri saya sehingga sayapun tidak memiliki persoalan yang sama dengan beberapa teman saya yang dilarang untuk meneruskan bekerja di bidang ini. Tapi percayalah asal kita bisa menjalankan pekerjaan kita dengan baik dan ada hasil yang bisa kita tunjukkan kepada orang tua ataupun orang terdekat kita pasti mereka menyetujui apapun bidang pekerjaan kita. Hal ini saya bisa buktikan ketika salah satu staff saya semasa saya masih menjadi Acting Division Manager satu level manager di Solid Gold, ada staff saya bernama Jenny, seorang keturunan batak yang dia memiliki semangat tinggi bahkan dia sampai berkata "saya tidak akan pernah keluar dari perusahaan ini kecuali saya di pecat " padahal saat itu orang tuanya begitu melarang dia untuk bekerja di bidang marketing bahkan suaminya sendiri sampai sempat mengancam saya karena dia menuduh saya telah meracuni otak istrinya untuk melawan keinginan suaminya agar dia melanjutkan bekerja di bidang marketing. Tetapi dengan semangat yang luar biasa itu dia membuat larangan orang tua dan suaminya  sebagi cambuk untuk lebih cepat berhasil. Tiga bulan kemudian Jenny bisa berhasil dan mendapatkan penghasilan rata- rata 80 juta perbulan, suatu jumlah bagi setiap orang yang mustahil didapat hanya dalam masa kerja 3 bulan. Hingga pada akhirnya dari awalnya dia harus nunggu suaminya sudah berangkat kantor baru dia masuk kerja , berganti setiap hari suaminya yang mengantar dia masuk kantor dan pada awalnya mengancam saya telah mempengaruhi istrinya berbalik mengucapkan terima kasih kepada saya. Itulah manusia kapanpun bisa berubah sikap tergantung kenyataan yang ada dihadapannya." Dan untuk merubah pandangan orang terhadap kita , hanya dengan membuktikan apa yang orang ragukan dari kita ". 
        Banyak alasan kenapa banyak orang tidak mau dan bahkan cenderung meremehkan pekerjaan di bidang marketing  inipun terjadi pada diri saya, saya memakluminya karena banyak pandangan yang salah mengenai marketing. Buat kebanyakan orang marketing identik dengan menjual dan menjual identik dengan berkeliling kerumah-rumah yang pada akhirnya banyak diremehkan orang. Kesalahan memahami marketing membuat dunia marketing menyebabkan sedikit peminat yang mau terjun di bidang ini. Buat saya marketing bukanlah menjual ( sales ) tetapi marketing adalah merubah cara pandang seseorang yang awalnya tidak mau melakukan sesuatu menjadi mau melakukan sesuatu seperti apa yang kita mau. Dalam kehidupan ini manusia semenjak lahir sudah bergelut dengan dunia marketing, seorang bayi yang baru lahir dia akan melakukan marketing dengan cara menangis agar ibunya mau memberikan asi kepadanya walaupun ditengah malam buta, supaya anaknya diam maka terpaksa ibu itu akan bangun dan memberikan asi kepada bayinya. Seorang anak-anak akan menangis hanya untuk sebuah es krim dan kalaupun dengan menangis belum cukup, dia akan meraung lebih keras dan bahkan bergulung-gulung dilantai hingga ia dapatkan eskrim dari ibunya. Seorang remaja akan berdandan serapi dan semenarik mungkin dan akan menunjukkan kelebihan-kelebihanya untuk menarik lawan jenisnya supaya menjadi pasangan hidupnya. Seorang pekerja akan menunjukkan dedikasi yang tinggi dan kinerja terbaik supaya mendapatkan kenaikan gaji dari atasannya. Dengan demikian menurut saya siapapun didunia ini tidak akan bisa hidup dengan normal tanpa marketing. Hanya cara dalam marketing dan tujuannya saja yang membedakan tetapi pada dasarnya kita memang dilahirkan untuk menjadi seorang marketing. " Orang yang sukses didunia ini adalah orang yang memiliki ilmu marketing lebih baik dari pada orang lain”. Dan buat saya tidak penting orang memandang remeh diri saya karena hanya berkerir didunia marketing dunia yang salah mereka pahami toh mereka memandang remeh ataupun tidak, hal itu tidak membawa pengaruh buat saya selama yang saya lakukan adalah tidak merugikan orang lain. Dalam meremehkan karir dimarketing pun saya sempat mendapatkan cibiran dari mertua saya yang justru sampai sekarang saya ingat sebagai motivasi yang kuat untuk lebih sukses di bidang ini yaitu ketika suatu malam saya pulang rumah ditengah malam mertua saya berkata kepada istri saya " suamimu itu kerja apa setiap hari pulang pagi-pagi capek aku tengah malam bukain pintu, suruh kerja lain saja yang jam pulangnya seperti orang normal " kata-kata itu begitu menyakitkan dan terngiang-ngiang di telingan saya dan kata-kata itu yang begitu memotivasi semangat saya untuk secepatnya keluar dari rumah itu, Setiap saya pulang tengah malam saya selalu berharap mertua saya yang membuka pintu supaya saya setiap hari semakin terpacu untuk membuat saya lebih kuat berusaha supaya lebih cepat keluar dari rumah itu. Enam bulan kemudian saya memang harus keluar dari rumah mertua dan membuat mertua saya bisa tidur nyenyak setiap malam karena saya sudah bisa membeli rumah untuk istri saya rumah dengan harga 370 juta waktu itu cash dan saya peroleh dari bidang marketing dan hanya saya peroleh dalam kurun waktu enam bulan, semua itu berkat motivasi dari mertua saya agar saya jangan mengganggu beliau setiap malamnya, terima kasih Bapak salam hormat selalu dari menantu yang telah merepotkan selama tinggal dirumah Bapak. Kejadian ini membuat saya belajar bahwa bukan kejadiannya yang terpenting dalam hidup ini tetapi bagaiman kita menyikapi kejadian itu adalah yang paling utama.

           Sebagai seorang marketing sayapun menerapkan apa yang dikatakan oleh Hermawan Kerta jaya seorang pakar marketing terkemuka " Be a market leader eventhough you are not market leader "  yang terjemahannya  dalam bahasa diri saya adalah jadilah diri kamu yang pertama,yang berbeda yang unik dan belum pernah ada sebelumnya maka kamu akan menjadi marketing yang sukses. Dalam dunia marketing yang terpenting bukanlah apa yang kita jual, dimana tempat kita berjualan, dan kapan kita berjualan tetapi menurut saya yang paling pokok adalah " Bagaimana cara kita menjualnya " apapun bentuk dan jenis barang yang kita jual. Prinsip ini yang selalu saya pegang bahwa  saya dan apa yang saya jual harus sesuatu yang belum pernah ada , unik yang orang lain tidak miliki , dan saya satu-satunya orang yang memiliki dan spesial saya peruntukkan untuk para client saya. Untuk menjadikan diri saya yang unik dan berbeda serta selalu ada yang baru setiap hari saya terus mencari suatu formula terutama dalam transaksi untuk mendapatkan cara transaksi yang mudah gampang serta persentase keuntungannya tinggi, dalam hal bagaimana saya mencari dan menemukan formula transaksi yang menarik untuk nasabah saya ,akan diceritakan dalam bagian yang lain dari buku ini. Cara yang baru, teknik baru serta strategi yang baru inilah yang  menjadikan diri saya semasa marketing selalu mendapat predikat top broker serta mengalahkan banyak para senior-senior saya dalam jenjang karier dan prestasi, banyak dari senior saya yang jauh tertinggal dari posisi saya saat ini. Susungguhnya bukan orang kaya , bukan orang pintar yang bisa sukses didunia ini tetapi orang yang kreatif dan mau berinovasi untuk menjadi yang terdepan,yang ter unik dan yang selalu mencari terus mencari untuk menjadi yang terbaik, dan yang terbaiklah yang akan sukses apapun bidang yang dia tekuni. Kemauan untuk menjadi pribadi yang berbeda yang unik yang terbaik inilah yang saya jadikan roh dalam diri saya dalam menjalankan semua aktifitas saya didunia marketing yang saya geluti.

         Manusia pada dasarnya adalah mahluk sosial mahluk yang diciptakan untuk saling berkomunikasi bergaul dan berhubungan satu sama lain. Begitupun saya , pada awal disiplin ilmu saya dibidang teknik dan pekerjaan saya yang selalu bergumul dengan komputer dan jarang sekali berkomunikasi dengan orang lain secara intens menjadikan saya awalnya agak kesulitan terjun dibidang marketing. Sering muncul perasaan takut, merasa rendah diri dan minder setiap ketemu orang yang keadaannya jauh lebih baik dari keadaan saya. Saya begitu sadar saat saya mulai beralih di bidang marketing selama saya memikirkan kelemahan-kelemahan yang ada pada diri saya dibandingkan orang lain maka setiap saat saya akan selalu merasa rendah diri,minder, dan tidak memiliki kepercayaan diri, padahal seperti kata Einstein " Keadaan yang paling berbahaya pada diri seseorang adalah ketika dia kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri " . Hal inilah yang memacu saya untuk merubah cara fikir saya yang tadinya mencari kelemahan saya dibandingkan orang lain berganti menjadi mencari apa kelebihan saya dibanding orang lain dan bagaimana caranya supaya saya memiliki kelebihan yang orang lain tidak miliki. Sehingga saya menapaki kehidupan marketing saya dengan nyaman tanpa pernah saya takut, minder, ataupun rendah diri kepada siapapun dan  ketika berhadapan dengan siapapun. Satu kondisi yang sangat saya nikmati dimana saya bisa berkomunikasi dengan siapapun kapanpun  umur berapapun strata apapun dan bahkan pangkat apapun sehingga saya merasa terlahirkan kembali didunia yang baru,  dunia yang penuh sahabat, saudara, teman dengan komunikasi yang lancar dan itu tidak saya dapatkan didunia yang saya geluti sebelumnya. Di dunia marketing ini, saya baru bisa mengembangnkan potensi yang ada pada diri saya, lebih banyak mengenal karakter orang, meminpin orang lain dan yang paling membahagiakan adalah  bisa berguna bagi oranglain. Dalam dunia yang baru ini saya mendapatkan penghasilan berkali-kali lipat dari penghasilan yang saya dapatkan di pekerjaan saya sebelumnya memiliki keluarga yang berkecukupan dengan berbagai fasilitas yg belum tentu dimiliki oleh orang seumuran saya , dan yang paling penting memiliki teman sahabat keluarga sebanyak yang saya miliki saat ini. Dunia yang teramat indah buat saya dimana saya bisa mendapatkan semua yang saya inginkan. Sebuah fakta yang selalu tidak bisa terbantahkan disetiap perusahaan baik besar maupun kecil semua direksi dan pimpinan perusahaan mayoritas berasal dari marketing, dunia yang terbaik buat saya tetapi dunia yang tidak banyak dipilih oleh orang banyak, dunia yang tidak pernah saya impikan sebelumnya  yaitu Dunia Marketing.
  

APAPUN JENIS PEKERJAANYA
 SELAMA KITA LAKUKAN DENGAN BAIK HASILNYA PASTI AKAN BAIK