Selasa, 26 Maret 2013

Faktor " X " Yang Menentukan





 Dilahirkan pada sebuah keluarga yang religius sangat mempengaruhi saya dalam cara pandang menghadapi kehidupan ini. Lingkungan pesantren ikut mewarnai perjalanan kehiduapan ketika saya masih kanak-kanak. Pengenalan sang maha pencipta dalam masa kecil saya begitu besar pengaruhnya terhadap perkembangan hidup saya. Pelajaran bagaimana Allah adalah zat yang maha mengetahui , maha melihat dan maha kuasa atas apa yang terjadi dalam kehidupan manusia sehingga apapun dalam kondisi apapun dan dalam waktu kapanpun Allah maha melihat mengetahui dan maha kuasa atas apapun yang terjadi. Satu cerita menarik ketika ustadz saya pernah bercerita tentang seorang kyai dengan 4 orang muridnya ceritanya begini. Pak kyai memberikan 4 orang muridnya masing- masing seekor burung dan sebilah pisau kemudian Pak kyai memerintahkan murid-muridnya tersebut untuk menyembelih burung tersebut dengan syarat tidak boleh diketahui oleh siapapun, setelah semua muridnya memahami maka masing- masing muridnya berlari mencari tempat yang tidak diketahui oleh siapapun dan menyembelihnya. Setelah 1 jam kemudian datanglah 3 orang murid ke kyainya dan berkata "kami sudah menyembelih burung yang diberikan kepada kami" . Kemudian Pak Kyai tanya satu persatu " kamu sembelih dimana " jawab salah satu muridnya " saya sembelih burung itu di dalam goa Pak Kyai jadi tidak ada seorangpun yang melihatnya " kemudian dua orang yang lain menjawab dengan hal yang sama meskipun tempatnya berbeda tetapi intinya mereka yakin tak ada seorangpun yang melihatnya. Setelah menyadari satu orang muridnya yang belum kembali lalu Pak Kyai dan ketiga muridnya menunggu hingga larut kepulangan satu muridnya hingga menjelang tengah malam baru satu murid yang ditunggu datang dengan membawa pisau dan burung yang masih hidup. Lantas Pak Kyaipun bertanya kepada muridnya " kenapa kamu baru pulang larut malam  dan membawa burung itu dalam keadaan hidup " lalu sang murid menjawab " maafkan saya Pak Kyai perintah untuk menyembelih burung ini tidak bisa saya lakukan karena dimanapun tempatnya saya mau menyembelihnya Allah tetap saja melihatnya saya tak bisa menghindar dari kuasa Allah Pak kyai " . Pelajaran ini memberikan saya teladan bahwa potensi apapun yang kita miliki sekuat apapun kita berusaha dan sehebat apapun kita, bahwa dalam keberhasilan hidup kita ada campur tangan Allah yang menyebabkan apapun yang kita inginkan bisa kita raih. Selalu mengucapkan dan selalu melakukan tindakan syukur selalu melandasi setiap langkah dalam hidup saya.

          Saya sangat menyadari semua yang saya alami selama saya berkarir di marketing dalam bisnis perdagangan berjangka ini besar sekali campur  tangan Allah yang saya rasakan. Banyak kejadian diluar nalar  yang saya alami dan saya dapatkan karena kemurahan dariNya , saya telah diberikan seorang istri yang tulus mendampingi hidup saya , rasanya tidak masuk akal seorang wanita mau saya nikahi padahal saya tidak memiliki apapun dan malah memiliki hutang 500 jt , satu hal yang langka bisa didapatkan di jaman sekarang ini. Rumah yang saya dapatkan dalam kurun waktu 6 bulan seharga 370 juta dan Rumah baru saya seharga 3,3 milyar dalam kurun waktu 15 bulan , tanggungan hutang 500 juta , serta biaya naik haji dan umrah untuk seluruh keluaga saya yang saya dapatkan hanya dalam waktu yang singkat adalah satu mukjijat lain yang saya rasakan. Sesuatu hal yang saya rasakan begitu besar campur tangan Allah dalam kehidupan saya dan sudah menjadi kewajiabn buat saya untuk selalu bersyukur atas semua nikmat yang diberikan Allah dalam kehidupan ini. 


    Dalam perjanan kehidupan saya berkaitan dengan sang maha pencipta kembali saya mendapatkan masukan yang luar biasa yang terus terang sangat mempengaruhi kehidupan saya. Atasan saya Pak Iriawan Widadi memberikan cerita yang sangat- sangat mempengaruhi cara pandang dan langkah kehidupan saya yaitu ketika beliau bercerita mengenai kisah antara nabi Musa  yang diperintahkan oleh Allah untuk belajar kepada nabi Khidir . Sebenarnya cerita ini saya sudah baca saat waktu kanak- kanak tapi saya jauh lebih mengerti makna yang terkandung didalamnya bagaimana seharusnya saya menjalani kehidupan ini dalam kaitan dan hubungannya dengan Allah SWT. Ceritanya kurang lebih begini : Pada suaru ketika Nabi Musa diperintahkan oleh Allah untuk belajar kepada Nabi Khidir setelah mendapatkan perintah Allah SWT Nabi musapun terheran-heran dalam hatinya dia mengatakan " Apa maksud Allah menyuruh saya untuk belajar kepada Nabi Khidir , bukankah saya (Musa) adalah pimpinan dari bani Israil, kaum yang oleh Allah diberikan kecerdasan yang lebih dari pada kaum- kaum yang lain, lantas kenapa saya malah disuruh belajar kepada Nabi Khidir ". Ditengah rasa penasaran itulah Allah mengatakan " Hai Musa kamu bisa menemui Nabi khidir di sebuah tempat dimana disitu ada batu yang memancarkan air dari batu itu " . Nabi Musapun berangkat ditemani Nabi Yakup untuk mencari dimana tempat Nabi Khidir berada . Dalam perjanannya mereka membawa ikan yang sudah mati dan ditempatkan pada sebuah tempat yang terbuat dari bambu dan diikatkan di pinggang Nabi Yakup. Pada suatu ketika saatnya waktu sholat maka merekapun mencari tempat untuk sholat dan berwudlu , pada saat mereka mengambil air wudlu tiba- tba dari sebuah batu memancarkan air dan mengenai ikan di pinggang Nabi yakup kemudian ikan tersebut hidup dan loncat dari tempatnya sehingga lepas ke sungai. Setelah selesai Shloat merekapun melanjutkan perjalanan, ditengah perjalanan Nabi Musa merasa lapar dan meminta Nabi Yakup untuk membakar ikan yang dibawa tadi, akan tetapi Nabi Yakup bercerita  bahawa ikan yang dibawa dari rumah sudah hilang loncat ke sungai saat ada batu yang memancarkan air. Kemudian Nabi Musapun teringat bahwa distitulah tempat Nabi Khidir, akhirnya merekapun kembali ketempat mereka sholat tadi dan menemui Nabi Khidir di tempat tadi. Setelah bertemu dengan Nabi Khidir Nabi Musapun menyampaikan maksudnya bahwa dia diperintahkan oleh Allah untuk belajar kepada Nabi Khidir, walaupun dalam hati bertanya apa maksud diperintahkan untuk belajar pada Nabi Khidir. Kemudian Nabi Khidirpun menyanggupi " Kamu boleh belajar sama saya tapi dengan satu syarat apapun yang saya ajarkan nanti, kamu tidak boleh bertanya apapun tentang apa yang saya ajarkan " kemudian Nabi Musa menjawab " baik Nabi Khidir ". Kemudian mereka berjalan di sebuah pantai dan tiba-tiba dengan pedangnya Nabi Khidir melubangi hampir keseluruhan sebuah kapal yang akan berlayar yang sudah terisi penumpang. Melihat hal tersebut Nabi Musapun melanggar janjinya untuk tidak bertanya" Ya Nabi Khidir , kenpa kamu lubangi kapal itu bukankah kapal itu sudah mau berlayar kalau kamu lubangi kapal itu maka kapal itu tidak akan bisa berlayar " . Kemudian dengan nada tinggi Nabi Khidir menjawab " Bukankah sudah saya bilang jangan pernah bertanya apapun yang saya ajarkan ", kemudian Nabi Musapun terdiam . Kejadian ini menggambarkan bahwa setiap manusia didunia ini lebih mengandalkan logika berfikir dalam menjalani kehidupannya, banyak orang yang memaknai keberhasilan yang selama ini diraih adalah hasil kerja keras dan buah fikiran dia . Seperti Nabi Musa saat kejadian ini hanya mengandalkan logika dalam menyikapi kehidupan ini. 



        Kemudian merekapun melanjutkan perjalanan dan ditengah jalan merekapun bertemu dengan seorang anak berumur 12 tahun, kemudian dengan pedangnya Nabi Khidir menusukkan pedang tersebut tepat ke jantung anak tersebut hingga meninggal. Dalam kebingungannya Nabi Musa kembali melanggar janjinya untuk tidak bertanya " Wahai Nabi Khidir kenapa kamu bunuh anak kecil ini, kalau kamu membunuhnya maka kamu akan mendapatkan hukuman yang sama seperti apa yang kamu lakukan sekarang ini " , kembali Nabi Khidir bilang ke pada nabi Musa " Hai Musa bukankah aku melarang kamu untuk bertanya " nabi musapun terdiam. Dalam pelajaran ini Nabi Musa dengan kepandaian otaknya menyikapi kehidupan ini hanya dari sisi hukumya . Begitupun kehidupan dinegara kita ini hukum dimana- mana sudah diperjual belikan, hukum bukan lagi hal yang ditakuti oleh orang- orang berduit, buat mereka yang berduit hukum dunia gampang untuk dibeli.

Perjalanan selanjutnya mereka menuju sebuah kerajaan dan menemukan sebuah tembok sebuah benteng kerajaan yang terlihat miring dan mau roboh. Kemudian dengan cepat Nabi Khidir memperbaiki tembok tersebut hingga selesai dan berdiri kokoh kembali. Setelah selesai Nabi Khidir mengajak nabi Musa kembali ketempat semula mereka ketemu. Dengan keheranannya Nabi Musa bertanya  " Wahai Nabi Khidir bukankah barusan kita sudah memperbaiki tembok kerajaan ini , mari kita singgah menemui sang raja untuk meminta imbalan atas apa yang kita sudah lakukan". Kemudian sekali lagi Nabi Khidir mengingatkan untuk tidak kembali bertanya dan mengajak pulang ke tempat Nabi Khidir . Sekali lagi Nabi Musa berfikir dengan logikanya tentang prinsip ekonomi dalam menolong orang , yaitu kalau kita melakukan sesuatu harus ada imbalanya . Kehidupan manusia saat ini setiap apa yang kita lakuakan selalu kita meminta balasan, kita tidak benar- benar ikhlas dalam menjalankannya.


    Sesampainya di tempat tinggal Nabi Khidir merekapun berbincang-bincang tentang apa-apa yang sudah diajarkan oleh Nabi Khidir. Nabi Khidir adalah Nabi yang oleh Allah diberi mukjizat yang bisa melihat masa depan. Kemudian Nabi Khidir bertanya kepada nabi Musa " Wahai Musa taukah kamu kenapa saya lubangi kapal yang mau berlayar tadi, perlu kamu ketahui saya lubangi kapal tersebut supaya kapal tersebut tidak jadi berangkat berlayar karena ditengah lautan sana sudah ditunggu para bajak laut yang akan merampas harta benda mereka dan membunuh semua yang ada dikapal, makanya aku lubangi kapal tadi " , Nabi Musapun baru mengerti apa maksud kenapa nabi Khidir melubangi kapal tersebut. Kemudian Nabi Khidir kembali berkata " Tahukah kamu Musa kenapa anak umur 12 tahun tadi saya bunuh , karena ketika kelak dia besar, dia akan jadi orang yang murtads dan jadi seorang perampok , pembunuh dan pemerkosa yang akan meresahkan masyarakat, makanya sebelum anak itu murtads dan jadi pengacau masyarakat maka aku bunuh anak tersebut", sekali lagi Nabi Musa baru mengerti apa maksud dibunuhnya anak tersebut. Kemudian Nabi Khidir melanjutkan penjelasannya" tahukah kamu Musa kenapa aku melarang kamu untuk meminta imbalan kepada raja , karena dibalik tembok benteng tadi ada rumah-rumah penampungan anak yatim yang jikalau tembok itu roboh maka akan menimpa perumahan anak yatim tersebut " , kembali Nabi Musa mengerti kenapa tidak boleh meminta imbalan kepada raja .



     Dari cerita ini bahwa dalam menyikapi kehidupan ini saya  bisa belajar bahwa manusia harus selalu belajar dan belajar untuk lebih baik, Nabi Musa yang dikaruniai kecerdasan yang tinggi oleh Allah disuruh belajar kepada Nabi Khidir, hal ini dimaksudkan oleh Allah bahwa nabi musa adalah manusia biasa yang meskipun dikarunia otak yang cerdas tetapi juga harus belajar kepada orang lain. Lantas kenapa saya , anda  yang  pasti tidak secerdas dan sepandai Nabi Musa malas untuk belajar atau bahkan tidak mau untuk belajar supaya lebih baik, apa saya ,anda semua ini dibandingkan Nabi Musa . Dari sini saya amat begitu sadar bahwa saya harus selalu belajar dan belajar untuk lebih baik kepada siapapun baik orang yang lebih tua maupun yang lebih muda dari saya. Dalam menyikapi kehidupan ini kebanyakan orang hanya menggunakan 3 hal dalam menjalani kehidupannya dan menyikapi hasilnya dengan 3 hal pula , yaitu yang pertama orang menyikapi dan menjalankan kehidupan ini hanya memakai logika berfikir, seperti Nabi Musa menyikapi ketika  Nabi Khidir melubangi kapal sehingga kecenderungan menyalahkan apa yang dilakukan oleh Nabi Khidir, karena Nabi Musa hanya melihat keadaan saat itu. Dalam kehidupan ini banyak orang yang memakai hanya logika dalam melakukan segala hal, kadang kita sudah seolah-olah tahu hasil apa yang akan kita dapatkan dari pekerjaan itu walaupun sebenarnya pekerjaan itu belum kita lakukan , kita seperti menjadi Tuhan sehingga banyak orang yang tidak banyak berbuat dalam hidupnya karena sebelum berbuat dia sudah menghakimi hasil apa yang akan dia peroleh. Yang kedua orang dalam hidupnya memakai landasan hukum dalam menyikapi kehidupannya . Banyak orang yang menghakimi segala sesuatu yang terjadi hanya atas kejadian saat itu tanpa melihat jauh ke depan. Banyak kejadian kekacauan ataupun tindakan yang tidak layak karena orang merasa dirinya paling benar menurut pemahaman hukum orang tersebut. Orang merasa bahwa Allah tidak adil kenapa di lahirkan dalam keadaan miskin, kenapa dilahirkan cacat kenapa dilahirkan jadi laki-laki dan masih banyak ketidak puasan akan hukum Allah yang sudah ditetapkan kepada masing-masing orang tersebut. Yang ketiga adalah kecenderungan manusia hanya menggunakan hukum ekonomi apa yang dia  kerjakan harus mendapat imbalan, kecenderungan orang tidak benar benar ihklas dalam menjalankan kehidupan ini dan ihklas untuk saling berbagi satu sama lain demi kebaikan semua tetapi memperhitungkan apa yang dilakukan harus mendapat imbalan yang sesuai atau kalaupun perlu mendapatkan lebih dari apa yang dia lakukan. Contoh nyata banyak orang malas bekerja tetapi ingin mendapatkan penghasilan yang besar. Banyak orang hanya menggunakan motif dasar ketiganya yaitu motif  logika , hukum dan ekonomi dalam menjalankan kehidupan ini , setiap orang lupa bahawa ada faktor lain yang sangat menentukan dalam kehidupan setiap orang dan dari cerita Nabi Khidir dan Nabi Musa  itu saya diwajibkan untuk selalu berfikiran positif terhadap ketentuan Allah kedepan, tidak boleh menyikapi segala sesuatu yeng terjadi pada saat itu saja tetapi ada maksud Allah yang lebih baik dihari depan jika saya berfikiran positif dan melakukannya dengan hal- hal yang positif. Dari cerita ini juga saya diajarkan untuk selalu ihklas dalam menjalankan kehidupan ini karena maksud Allah jauh lebih baik kedepannya, saya tidak boleh berputus asa dalam melakukan segala hal. Saya tidak boleh menghakimi sesuatu itu benar atau salah, jahat atau tidak karena hak untuk menghakimi atas segala sesuatu adalah hak Allah. Seperti ketika Nabi Khidir bertanya kepada Nabi Musa " Wahai Musa , saat ibu kamu menghanyutkan kamu di sungai nil ketika saat kamu bayi , menurut kamu jahatkah ibu kamu saat itu? " kemudian Nabi Musa menjawab " ya , pasti saya berfikir ibu aku jahat saat itu karena membuangku di sungai Nil, tetapi saat ini saya menyadari bahwa tindakan ibuku saat itu tidak jahat karena kalau tidak di buang ke sungai Nil mungkin saat ini aku sudah mati dibunuh tentara Firaun. Dari sini saya belajar saya tidak boleh berputus asa apapun yang terjadi dan bagaimanapun keadaan saya, karena saya tidak akan pernah tahu apa maksud Allah dari segala sesuatu yang saya alami selama ini. Setiap kejadian yang saya alami , baik saat berhutang 500 juta , saat saya harus mewujudkan apa yang ingin saya capai dalam kehidupan ini, saya hanya  ihklas menjalankannya, saya hanya niatkan semua itu sebagai ibadah, seberat apapun dan sebesar apapun persoalan hidup yang saya alami, saya hanya menyandarkan kepada zat yang maha kuasa karena saya begitu yakin bila saya ihklas menjalankanya serta terus berprasangka baik kepada ketetapan Allah kedepan serta menjalankanya sebagai ibadah pertolongan Allah pasti akan datang. Semua yang saya alami dan semua yang terjadi dan apa-apa yang dititipkan kepada saya saat ini, saya begitu menyadari bahwa semata- mata bukan hanya karena usaha keras saya , teman teman saya saja tetapi begitu besar campur tangan Allah SWT. Faktor " X " yang sangat menentukan tetapi mudah dilupakan semua orang karena kesombongan dan kecongkakan bahwa semua adalah hasil dari kerja keras pribadi bukan atas rahmat  sang faktor "X" , sang penentu Allah SWT.

Tidak ada komentar: